Senin, 29 Desember 2008
Senin, 22 Desember 2008
OSEANOGRAFI
Tugas
KEHIDUPAN DASAR LAUT
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Oseanografi
Yang dibina oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho

Oleh :
APRILIA DWI JAYANTI (206351401037)
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
November 2008
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas segala rahmat dan hidayahNya, hingga terselesaikanlah makalah ini.
Makalah ini berjudul “ Kehidupan Dasar Laut ”.
Pada kesempatan ini diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bagus selaku dosen matakuliah Oseanografi serta semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dimakalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini sangat kami harapkan.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bumi itu sangatlah unik dalam system tata surya bumi memiliki kuantitas air yang banyak sekali. Hal ini terbukti dengan adanya lautan yang menutupi bumi kira-kira 140 juta dari total 200 juta mil2 permukaan bumi. Maka lautan di dunia menempati 70% dari bumi. Menurut volumenya, bumi mengandung 350 juta mil3 air. Selain itu lautan mengandung 3,5% garam tak larut sama dengan 165 juta ton garam per mil3, dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa air merupakan sumber bumi yang didalamnya terdapat satu mobile ore terbesar di permukaan bumi.
Lautan sangat penting bagi kehidupan di permukaan bumi. Pertama, lautan secara garis besar mempengaruhi hampir semua proses permukaan bumi. Kedua, lautan mengatur proses geologis weathering/pelapukan (kerusakan bahan geologis seperti batu karang dan mineral) dan kerusakan erosi (yang melibatkan transportasi bahan dalam air). Ketiga, air laut tidak hanya mendukung kehidupan tetapi juga menjamin pertumbuhan dinamikanya selama ratusan juta tahun evolusi sehingga memungkinkan kehidupan tetap ada sampai saat ini dalam bentuk dan ukuran yang tak terhitung mulai dari mikroorganisme sampai organisme laut tingkat tingi seperti ikan paus.
Seperti telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa laut mendukung kehidupan sehingga didalam laut terdapat suatu ekosistem. Ekosistem merupakan suatu unit fungsional dari berbagai ukuran yang tersusun dari komponen-komponen biotik maupun abiotik yang saling berinteraksi. Komponen-komponen dan sistem tersebut secara keseluruhan berfungsi berdasarkan suatu urutan kegiatan yang menyangkut energi dan pemindahan energi. Ekosistem air laut luasnya lebih dari 2/3 dari permukaan bumi (kurang lebih 70%). Karena luasnya dan potensinya yang sangat besar, maka ekosistem laut ini menjadi perhatian orang banyak terutama yang berkaitan dengan ”Revolusi Biru”. Adapun ciri-ciri ekosistem laut, meliputi:
- Memiliki kadar mineral yang tinggi, ion terbanyak ialah Clorida sebanyak 55%, namun kadar garam di laut bervariasi ada yang tinggi (seperti daerah tropika) dan ada yang rendah (di laut beriklim dingin)
- Ekosistem air laut tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
Ekosistem lautan merupakan sistem akuatik yang terbesar di planet bumi. Ukuran dan kerumitannya menyulitkan kita untuk dapat membicarakannya secara utuh sebagai satu kesatuan. Akibatnya, dirasa lebih mudah jika membaginya menjadi subbagian yang lebih dapat dikelola. Selanjutnya, masing-masing dapat dibicarakan berdasarkan prinsip-prinsip ekologi yang menentukan kemampuan adaptasi organisme suatu komunitas. Dengan demikian, untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam makalah ini.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana bagian-bagian lingkungan laut?
1.2.2 Bagaimana rantai makanan yang terjadi di perairan laut?
1.2.3 Bagaimana adaptasi biota di laut dalam
1.2.4 Apa pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap budidaya laut?
1.3. Tujuan
1.3.1. Mengetahui bagian-bagian laut
1.3.2. Mengetahui rantai makanan di perairan laut
1.3.3. Mengetahui adaptasi biota di laut dalam
1.3.4. Mengetahui pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap budidaya laut
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Bagian-Bagian Lingkungan Laut
Lautan merupakan habitat terbesar di bumi. Dibalik selubung kebiruannya, masih tersimpan banyak rahasia yang belum terungkap. Hingga kini sebagian besar kehidupan di laut dalam belum benar-benar diketahui.
Secara umum, wilayah perairan laut yang luas ini dikelompokkan dalam lima bagian. Samudra Pasifik, Samudra Atlantik, Samudra India, Laut Selatan, dan Laut Arktika. Karena itu tipelogi kehidupan laut berdasarkan pembagian areanya dikelompokkan dalam lima bagian ini.
Terlepas dari klasifikasi, menelusuri kehidupan di lautan memang tak kalah menarik dibanding kehidupan di daratan. Bahkan kehidupan di lautan lebih kompleks, lebih variatif, dan lebih tertutup. Dari wilayah pantai, lautan dangkal, selat, teluk, sampai lautan dalam, samudra luas, bahkan palung-palung laut.
Struktur lantai lautan juga bergunung-gunung, berlembah, dan berpalung. Semuanya punya sistem kehidupan sendiri-sendiri yang sangat variatif dan beragam. Tergantung tingkat kedalaman air, kemampuan sinar matahari menembus laut, suhu, iklim, dan arus air.
Paul Bennet dalam The Natural World – Under The Ocean, memaparkan bahwa para ilmuwan telah membagi lautan menjadi lapisan atau zona yang jelas. Ada kawasan yang disebut perairan dangkal, zona twilight, lautan dalam.
Bagian laut yang terdekat dengan kehidupan daratan adalah perairan dangkal yaitu wilayah laut yang dekat dengan tepi pantai. Zona ini mendapat limpahan cahaya matahari yang berkecukupan. Kehidupan di zona ini sangat beragam dan tempat yang paling disukai ikan-ikan yang kita kenal.
Setelah perairan dangkal zona berikutnya adalah zona twilight. Yaitu kawasan perairan yang masih bisa ditembus matahari walau tak “semewah” perairan dangkal. Zona ini bisa dikatakan batas jangkauan matahari mampu menembus lapisan lautan. Karena itu kehidupan di sini mulai sedikit, namun masih bisa ditinggali jenis-jenis bunga karang. Ikan berukuran besar juga suka berada di antara zona twilight ini atau mengapung di permukaan laut dalam.
Zonasi lautan yang paling gelap dan dingin adalah laut dalam (termasuk palung laut). Masih sedikit sekali yang diketahui tentang kehidupan di zona ini.
Lautan dalam adalah zonasi yang paling misterius dan sangat tidak ramah. Suasanananya seram, gelap, pekat. Kegelapannya hampir serupa dengan lubang gua terdalam di bumi.
Kegelapan abadi di laut dalam terjadi karena sinar matahri tak bisa menembusnya. Cahaya “kehidupan” itu hanya bisa mencapai kedalaman 1.000 meter. Ini berpengaruh pula pada suhunya yang sangat dingin dan tekanan air yang luar biasa besar.
Begitu pun, penelitian terakhir menunjukkan bahwa di zona ini pun masih juga dihuni mahluk hidup. Hewan-hewan laut dalam ini adalah mahluk istimewa yang punya adaptasi khusus dengan lingkungannya yang sangat ektrim dan keras.
Biasanya hewan-hewan laut dalam ini punya kemampuan mengeluarkan cahaya, warna-warni indah di kegelapan. Bentuk-bentuk hewan laut dalam ini juga sangat aneh dan tidak lazim seperti kehidupan di dua zonasi yang mendapat sinar mentari.
Beberapa spesies yang sudah dikenali dari lautan hitam yang dingin ini seperti ubur-ubur kaca, ikan pengail (angler fish), belut penelan, ikan tripod (tripod fish), ikan ekor.
Habitat air laut (oceanic) ditandai oleh salinitas yang tinggi dengan ion Cl- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termocline.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung balk. Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaannya secara horizontal.
1. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut.
· Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.
· Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari sampai bagian dasar dalamnya ± 300 meter.
· Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m
· Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari pantai (1.500-10.000 m).
Gambar 1. Pembagian Ekosistem air laut berdasaarkan kedalamannya

2. Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari tepi laut semakin ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut :
· Epipelagik merupakan daerah antara permukaan dengan kedalaman air sekitar 200 m.
· Mesopelagik merupakan daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman 200 1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.
· Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman 200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.
· Abisal pelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai 4.000m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar matahari tidak mampu menembus daerah ini.
· Hadal pelagik merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman
lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.
Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.
Organisme-organisme yang hidup di laut antara satu pembagian daerah dengan daerah lain berbeda-beda. Berikut gambarannnya :
Organisme yang terdapat di zona Pelagic laut : (a) Chaetoceros; (b) Biddulphia; (c) Nitzchia; (d) Gymnodinium; (e) Tallassiosira; (f) ceratium; (g) Coccolithophoorids; (h) Favella; (i) Globigerina; (j) Protocystis; (k) Clione; (l) Calanus; (m) Pelagia; (n) Tomopteris; (o) Saggita; (p) Euphausia; (q) Balaenoptera; (r) Physeter; (s) Apherusa; (t) Cylocsalpa.
Ikan-ikan yang terdapat di kedalaman laut: (a) Argyropelecus; (b) Bthypterois; (c) Linophryne; (d) Lasiognatus; (e) Malacostus; (f) Edriolynchus; (g) Gigantactis; (h) Macropharynx.
Binatng bentik yang terdapat di laut dalam : (a) Eremicaster; (b) Ophiura; (c) Odostomia; (d) Diastylis; (e) Ischnomesus; (f) Storthyngura; (g) Neotanais.
Organisme yang terdapat di zona neritik laut. (a) Ulva; (b) Ectocarpus; (c) Alaria; (d) Sargassum alga cokelat; (e) Rhodimenia; (f) Polyshiphonia; (g) Podon; (h) Phtisicia; (i) Thia larva; (j) Branacle nauplius; (k) Acartia; (l) Phyllosoma larva dari lobster; (m) Plathynereis; (n) Ostrea; (o) Snail Larva; (p) Larva Brittle Bintang; (q) Gadus; (r) Solea
2.2. Rantai Makanan Di Perairan Laut
Komunitas di Dalam Ekosistem Air Laut
Menurut fungsinya, komponen biotik ekosistem laut dapat dibedakan menjadi 4, yaitu:
| a. | Produsen |
| b. | Konsumen |
| c. | Zooplaokton |
Pada ekosistem laut dalam, yaitu pada daerah batial dan abisal merupakan daerah gelap sepanjang masa.
Di daerah tersebut tidak berlangsung kegiatan fotosintesis, berarti tidak ada produsen, sehingga yang ditemukan hanya konsumen dan dekompos saja. Ekosistem laut dalam merupakan suatu ekosistem yang tidak lengkap.
Semua hewan jika ditelusuri rantai makannnya akan bermula dari tumbuhan karena hanya tumbuhan yang mampu memproduksi zat organik dari zat organik. Di laut dalam tidak ada tumbuhan , oleh karena itu sumber makanan untuk hewan laut dalam harus berasal dari permukaan, bisa berupa :
1). “hujan” plankton atau partikel-partikel organik lainnya yang jatuh ke bawah.
2). Jatuhan bangkai-bangkai hewan besar atau potongan-potongan tumbuhan yang dengan cepat dapat tenggelam ke dasar sebelum habis terurai oleh bakteri atau hewan pemakan bangkai ( scavenger).
3). Bakteri, yang juga merupakan bahan organik yang potensial sebagai bahan makanan bagi berbagai biota.
4). Bahan organik pelarut.
“Hujan” partikel organik diduga merupakan masukan energi yang sangat penting bagi kehidupan hewan laut dalam. Sebagian besar partikel organik ini berupa gumpalan tinja dari zooplankton yang masih hidup dilapisan atas. Tinja dari beberapa krustacea plankton terselubung daam selaput membran yang sangat halus. Penelitian dengan menggunakan perangkap sedimen menunjukkan bahwa 1% dari produksi primer di permukaan tenggelam sampai pada kedalaman 3000-4000 m dalam bentuk gumpalan tinja.
Jatuhan bangkai hewan besar misalnya ikan tuna dapat merupakan bahan makanan bagi hewan laut tapi diduga umbangannya sangat kecil. Selain itu di dasar laut dalam juga ditemukan potongan-potongan dari tumbuhan darat atau pantai yang merupakan sumber bahan organik untuk kehidupan laut daam seperti telah ditemukandalam expedisi Galathea di dasar laut Sulawesi pada kedalaman hampir 5000 m.
Bakteri lebih banyak terdapat di sedimen dasar laut daripada di dalam air di atasnya. Bakteri ini bisa merupakan makanan penting bagi hewan-hewan yang hidup di dasar laut seperti protozoa, cacing, sponge, moluska, teripang. Bakteri mengandung protein dan lemak yang mudah di cerna. Populasi bakteri di dasar laut daam rata-rata sebesar 2 mg karbon per m2.
Beberapa hewan laut dalam tidak memiliki saluran pencernaan misalnya kelas pogonophora yang bentuknya panjang seperti cacing. Diduga hewan ini dapat memanfaatkan langsung zat organik yang terlarut dalam air.
Seperti yang ada di disekitar Antartika yang dihuni pinguin, anjing laut, ikan paus, burung albatros, serta ikan patagonian toothfish, ikan es (ice fish), udang krill, dan plankton. Kesemuanya ini membentuk rantai makanan yang lestari. Tampak bahwa kelestarian ekosistem di perairan Antartika ini amat ditentukan oleh ketersediaan rantai makanan tadi. Plankton dimakan oleh udang krill, kemudian udang krill tadi dilahap oleh ice fish, disantap pula oleh toothfish, yang kemudian dimakan oleh anjing laut dan dan ikan paus. Burung burung albatros juga menyantap ikan es dan udang krill untuk mempertahankan hidup mereka.
2.3. Adaptasi Biota Di Laut Dalam
Kondisi-kondisi limgkungan hidup laut dalam memaksa organisme penghuninya untuk mengadakan adaptasi. Dewasa ini juga baru diketahui sedikit tentang adaptasi fisikologi dan biokimiawi. Salah satu adaptasi yang dapat diamati, dan yang juga dapt di amati pada hewan-hewan mesopelagik, ialah warna. Ikan-ikan mesopelagik khususnya, cenderung berwarna abu-abu keperakan atau hitam kelam. Tidak terdapat kontras warna seperti pada hewan-hewan epipelagik. Sebaliknya invertebrata mesopelagik berwarna ungu atau merah cerah. Ubur-ubur, mesopelagik misanya, sering kali berwarna ungu kelam, sedang krustacea seperti kopepoda dan bermacam udang berwarna merah cerah. Karena organisme-organisme ini hidup dalam suasana yang gelap, organisme yang berwarna hitam tidak akan kelihatan. Namun dada organisme yang berwarna merah cerah, karena merah adalah warna yang pertama diabsorbsi oleh air laut. Jadi organisme yang berwarna merah juga tampak hitam di laut dalam.
Organisme yang hidup di zona abisal dan batial sering tidak berwarna atau berwarna putih kotor, dan tampaknya tidak berpigmen khususnya hewan-hewan bentik. Tetapi, hewan penghuni kedua zona ini berwarna hitam kelam. Adaptasi lain yang terutama tampak pada ikan penghuni zona mesopelagik dan batipelagik bagian atas adalah adanya sepasang mata yang besar. Jika dibandingkan dengan besarnya tubuh, ukuran mata ikan ini jauh lebih besar daripada ikan-ikan epipelagik. Pada umumnya ada korelasi antara ukuran mata yang besar dengan adanya orgaaaan-organ penghasil cahaya. Ikan-ikan ini berenang di bagian atas laut dalam di mana masih ada sedkit cahaya. Cukup banyak ikan-ikan ini yang mengadakan migrasi ke zona epipelagik pada malam hari. Mata yang besar memberikan kemampuan yang maksimum untuk mendeteksi cahaya di perairan di mana intensitas cahaya sangat rendah. Pada ikan, memperluas permukaan mata hanya salah satu adaptasi saja. Ikan-ikan ini juga memiliki ”penglihatan senja” yang peka karena danya pigmen rodopsi dan tingginya kepadatan batang retina. Kecenderungan lan ditunjukkan oleh ikan penghuni bagian-bagian laut dalam yang terdalam (abisal pelagik dan hadal pelagik). Ikan-ikan ini bermata sempit atau bahkan tidak mempunyai mata karrna mata tidak diperlukan jika tinggal di tempat yang gelap gulita.
Adaptasi lain adalah mata berbentuk pipa ( tubular). Tiap mata memili 2 retina, retina di pangkal silinder berfungsi untuk melihat obyek yang dekat, sedangkan yang terdapt di dinding silinder untuk melihal obyek yang jauh. Di antara invertebrata terdapat cumi-cumi dari Histioteuthidae yang memiliki adaptasi aneh yakni mata yang besar daripada mata lainnya. Mata yang besar ini mengumpulkan cahaya remang-remang dari arah permukaan laut. Selain mat besar cumi-cumi ini juga memiliki mata yang kecil untuk mengadakan respon terhadap cahaya yang dihasilkan fotofor-fotofor.
Langkanya pakan mengakibatkan adanya adaptasi lain. Kebanyakan ikan laut dalam memiliki mulut yang besar dan gigi yang panjang dan melengkung ke arah tenggorokan. Dengan demikian, sesuatu yang telah masuk ke dalam mulut dipastikan tidak bisa keluar. Lebih aneh lagi mulut ikan yang besar ini dihubungkan ke tengkorak oleh suatu engsel, sehingga mulutnya bisa bertambah lebar dan bisa menelan mangsa yang lebih besar daripada tubuhnya. Hal ini dilakukan dalam rangka beradaptasi dengan sedikitnya pakan.
Langkanya pakan mengakibatkan rendahnya kepadatan organisme, yang mengakibatkan sulit mencari pasangan untuk bereproduksi apalagi di laut dalam yang sangat luas dan gelap. Salah satu adaptasi terlihat pada ikan Ceratias. Di mana Ceratias jantan berukuran lebih kecil dan hidup menempel(parasit) pada Ceratias betina, sehingga Ceritias jantan selalu menyediakan sperma untuk Ceritias betina. Ceritias jantan bisa menemukan Ceritias betina melalui indria ulfaktorik.
Pada umunya dasar laut dalam terdiri dari sedimen yang sangat halus. Organisme yang hidup di dasar laut dalam juga cenderung bertubuh lembut dan rapuh, memiliki kaki yang panjang sehingga memungkinkan hewan ini dapat mengangkat tubunya di atas permukaan sedimen yang lunak. Terdapat pula ikan laut0dalam yang memiliki sirip yang panjang dan sempit, yang berfungsi juga untuk mengangkat tubuhnya di atas permukaan sedimen yang lunak.
2.4. Pengaruh Faktor-Faktor Lingkungan Terhadap Budidaya Laut
Budidaya laut adalah budidaya biota laut yang hidup dalam air laut. Ini berarti bahwa air laut merupakan medium dimana biota laut tersebut hidup, tumbuh dan berbiak lebih baik daripada rekan-rekannya yang tidak dibudidayakan.
Cara mengusahakan budidaya laut secara mudahnya dapat dibagi menjadi budidaya ekstensif, yakni pemeliharaan biota laut di suatu perairan yang cukup laus dengan padat peneberan yang rendah. Biota yang dibudidayakan dapat disediakan dari suatu sumber (pembenihan, pengumpulan dari alam) atau dari populasi alami yang masuk ke sistem dalam bentuk burayak atau juwana. Mereka biasanya hidup dari makanan alami. Contohnya adalah budidaya kerang, tiram dan rumput laut. Budidaya intensif dilakukan dengan padat penebaran tinggi dalam suatu lingkungan sempit seperti kurungan atau, kolam pembenihan dengan sistem air mengalir untuk memperoleh volume air sebesar-besarnya guna persediaan zat asam dan pengangkutan kotoran. Binatang yang dibudidaya dapat diberi makanan buatan dalam bentuk pelet. Seluruh sistem harus secara teliti diawasi dan dipantau. Contoh yang sudah mencapai teknologi canggih adalah pembenihan ikan trout dan salmon di Amerika Serikat dan di Eropa. Di Taiwan terdapat juga kategori ini, yakni budidaya bandeng.
Dalam kedua jenis budidaya tersebut air laut merupakan kebutuhan pokok, baik kuantitas maupun kualitas. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas air akan mempengaruhi pula keberhasilan budidaya.
Beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas air dan kehidupan biota laut yang dibudidaya adalah seperti di bawah ini.
S u h u
Suhu merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimiawi; menurut hukum van’t Hoff kenaikan suhu 10°C melipat duakan kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku. Misalnya saja proses metabolisme akan menaik sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi kemudian menurun lagi. Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi banyak proses kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan binatang, karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan.
Di perairan tropis perbedaan/variasi suhu air laut sepanjang tahun tidak besar; suhu permukaan laut Nusantara berkisar antara 27° dan 32°C. Kisaran suhu ini adalah normal untuk kehidupan biota laut di perairan Indonesia. Suhu alami tertinggi di perairan tropis berada dekat ambang atas penyebab kematian biota laut. Oleh karena itu peningkatan suhu yang kecil saja dari alami dapat menimbulkan kematian atau paling tidak gangguan fisiologis biota laut. GESAMP (1984) menyatakan bahwa kisaran suhu di daerah tropis sedemikian rupa sehingga banyak organisme hidup dekat dengan batas suhu tertinggi.
Salinitas
Keanekaragaman salinitas dalam air laut akan mempengaruhi jasad-jasad hidup akuatik melalui pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik.
Jenis-jenis biota perenang ditakdirkan untuk mempunyai hampir semua jaringan-jaringan lunak yang berat jenisnya mendekati berat jenis air laut biasa, sedangkan jenis-jenis, yang hidup di dasar laut (bentos) mempunyai berat jenis yang lebih tinggi daripada air laut di atasnya.
Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan osmotik. Pada umumnya kandungan garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam dalam kebanyakan air laut. Kalau sel-sel itu berada di lingkungan dengan salinitas lain maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan kepekatan antara sel dan lingkungannya. Pada kebanyakan binatang estuarin penurunan salinitas permulaan biasanya dibarengi dengan penurunan salinitas dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi setelah ada penurunan salinitas yang nyata
Kadar oksigen terlarut
O2 terlarut diperlukan oleh hampir semua bentuk kehidupan akuatik untuk proses pembakaran dalam tubuh. Beberapa bakteria maupun beberapa binatang dapat hidup tanpa O2 (anaerobik) sama sekali; lainnya dapat hidup dalam keadaan anaerobik hanya sebentar tetapi memerlukan penyediaan O2 yang berlimpah setiap kali. Kebanyakan dapat hidup dalam keadaan kandungan O2 yang rendah sekali tapi tak dapat hidup tanpa O2 sama sekali. Sumber O2 terlarut dari perairan adalah udara di atasnya, proses fotosintese dan glycogen dari binatang itu sendiri. Air yang tak ber - O2 selalu jarang terdapat disamudera. O2 dihasilkan oleh proses fotosintesa dari binatang dan tumbuh-tumbuhan dan diperlukan bagi pernafasan.
Menurunnya kadar O2 terlarut dapat mengurangi efisiensi pengambilan O2 oleh biota laut, sehingga dapat menurunkan kemampuan biota tersebut untuk hidup normal dalam ling-kungannya. Kadar O2 terlarut di perairan Indonesia berkisar antara 4,5 dan 7.0 ppm.
pH (derajat keasaman)
Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 – 8,5. Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan, burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer. Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air, misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali.
Unsur hara
Sebagian besar unsur-unsur kimiawi yang diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan dan binatang terdapat dalam air laut dalam jumlah lebih dari cukup, sehingga kekurangannya tak perlu dipertimbangkan sebagai faktor ekologi. Dalam beberapa hal kepekatan unsur “trace” menjadi penting, tapi ini terjadi sangat jarang sekali dibanding dengan di darat.
Fosfat dan nitrat dalam kepekatan bagaimanapun selalu dalam rasio yang tetap. 15 at. N : 1 at P. Rasio ini cenderung tetap dalam fito dan zooplankton. Hanya dalam keadaan tertentu rasio dalam air berubah.
PO4 : P bisa oerada dalam bentuk senyawa organik maupun anorganik. Keduanya dalam bentuk butiran dan larutan. Dalam jaringan hidup terutama dalam bentuk senyawa organik dan dilepaskan kembali ke air sebagai kotoran maupun bangkai dalam bentuk butiran atau larutan. Umumnya kekurangan fosfat dalam laut mempengaruhi fotosintesa dan pertumbuhan sama besarnya.
NO3 : Samudera mendapatkan dari udara bukan saja N tetapi juga NO3. Seperti halnya PO4, pertumbuhan dan fotosintesa dari tumbuh-tumbuhan laut (fitoplankton dan alga bentik) dibatasi oleh kepekatan NO3 dalam air.
Selain unsur-unsur hara tersebut, diatom mengambil sejumlah besar Si dari laut dan kekurangan kandungan Si dapat menjadi faktor pembatas di perairan tertentu.
Faktor-faktor lingkungan lain yang penting diperhatikan adalah penyinaran matahari, gelombang dan arus.
DAFTAR PUSTAKA
Nontji, Anugrah. Laut Nusantara. 1986. Jakarta: Djambatan
Nybakken, W. James. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. 1986. Jakarta: PT. Gramedia Jakarta
Taryana, Didik. Bahan Ajar Oceanografi. 2004. Malang: FMIPA UM
Arifbio. Multiply. com / journal / item / 18 / Ekologi_Laut. Ekologi Laut. online, diakses tanggal 15 November 2008
Free. Vlsm. Org / VI2 / Sponsor / ... / Praweda Biologi / 0034 Bio. 1-7. htm, Pembagian Daerah Ekosistem Air laut, online diakses tanggal 15 November 2008
Masantos, Wordpress. com. Pengaruh Faktor-Faktor Lingkungan Terhadap Budidaya Laut. online, diakses tanggal 15 November 2008
http://www. harian global. com. Zona Laut. online, diakses tanggal 15 November 2008
Selasa, 16 Desember 2008
Jumat, 28 November 2008
ABOUT ME AND GEGRAFI
hai semua.. ni Q april cew yang cuek,imoet and cute abizzz....cie....Q cuma mau iseng-ieng nich nulis about geografi.
Geografi tuh sering cuma dipandang sebelah mata,,padahal hanya orang yang g tau apa-apa tentang geografi yang bisa bilang giutu....
mau tau lebih lanjut!!! yu....uk mari....

