Sabtu, 25 Februari 2012
Senin, 27 April 2009
about agroforestry
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Sumber daya alam merupakan segala sesutau yang ada di alam yang dapat digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Indonesia yang memiliki banyak gunung api yang masih aktif, kaya akan sumber daya alam. Bannyak barang tambang yang bernilai ekonomi yang terdapat di Indonesia. Selain itu, dengan adanya gunung-gunung api yang aktif, menjadikan tanah di Indonesia subur. Dengan kesuburan tanah yang dimiliki Indonesia kaya akan berbagai jenis tanaman. Sehingga hutan yang ada di Indonesia juga cukup luas.
Hutan merupakan ekosistem alamiah yang sangat kompleks dengan ciri tigamatranya yang sangat menonjol. Mereka mengandung sangat banyakjenis pepohonan, mulai dari fenarogam yang kecil sampai ke pohon-pohon raksasa maupun juga pohon pakis, lumut dan jamur yang kemudian menjadi dasar kehidupan berbagai jenis hewan dan jasad renik. Relung-relung ekologi yang terdapat di dalamnya memberi tempat berbagai jenis yang khas, sehingga memperluas relung spesies.
Fungsi hutan sebagai pelindung juga mempunyai arti penting, baik di daerah pegunungan maupun di daearah pemukiman yang padat. Hutan lebih mampu melindungi air minum (berupa air tanah) dan daerah aliran sungai dari bahaya pencemaran dibanding dengan lahan-lahan pertanian dan daerah pemukiman, bahkan hutan juga mampu meningkatkan mutu air. Sebagai pelindung dari banjir dan guguran tebing serta menjaga jaringan kabel komunikasi tanpa memerlukan bangunan teknis yang mahal. Sebagai tambahan, hutan juga berjasa sebagai pelindumg dari pencemaran kebisingan dan debu. Di berbagai tempat hutan juga berfungsi sebagai penahan angin sehingga meningkatkan mutu daerah pertanian.
Hutan rimba tropika seperti yang terdapat di kepulauan kita amat kaya akan berbagai jenis pohon dan tumbuhan dari yang amat besar seperti raksasa hingga yang kecil dan halus. Alangkah kayanya kehidupan dalam rimba tropika ini. Dari bakteria dan cendawan di tanah, berbagai lumut di pohon, hingga ke ulat dan kumbang di bawah kulit kayu dan berbagai margasatwa besar dan kecil. Tiada terhitung banyaknya berjenis-jenis rupa tanaman.Hutan belantara tropika ini telah berkembang ratusan juta tahun. Di dalamnya terjadi proses-proses yang kompleks dengan sebab-akibat yang bermata rantai dalam sebuah ekosistem.Jika sebuah mata rantai dirusak oleh manusia, maka hal ini akan membawa dampak terhadap mata rantai lainnya.
Hutan di Kecamatan Sookom terdiri dari dua macam. Yaitu hutan jati dan hutan rimba (hutan yang berisi tanaman pinus). Untuk hutan rimba memiliki luas luas wilayah 567,15 ha, sedangkan untuk hutan jati memiliki luas 707,5 ha. Hutan rimba memberi kontribusi berupa getah, sedangkan hutan jati memberikan sharing (bagi hasil) berupa dari penebangan yang dilakukan jika pohon sudah layak tebang.
Kawasan hutan di Kecamatan Sooko ini mengalami kerusakan. Karena pada dasarnya tidak ada hutan yang aman 100% dari pencurian. Terjadinya tebangan secara liar menjadi penyebab kerusakan hutan jati di kecamatan Sooko. Hal ini terjadi karena semakin bertambahnya penduduk sehingga lapangan kerja kurang maka masyarakat melakukan penjarahan di lahan hutan. Masyarakat sekitar hutan mencuri kayu kemudian menjualnya, ini terjadi di hutan jati salah satunya hutan jati RPH Gunung Tukul. Sedangkan untuk hutan rimba di sini yang merupakan hutan rimba RPH Sooko cenderung lebih aman jika dibanding dengan hutan hutan jati. Penebangan liar ini mereka lakukan dengan alasan ekonomi. Akibat yang ditimbulkan dari penebangan liar ini, menyebabkan kerugian yang besar pada pihak perhutani dan berbagai dampak kerusakan untuk kawasan sekitarnya.
Mengingat bahaya yang terjadi jika hutan mengalami kerusakan, maka diperlukan pengelolaan hutan.Yang dimaksud dengan pengelolaan hutan adalah kegiatan manusia secara keseluruhan yang bertujuan untuk mengarahkan sistem ekologi hutan atau memelihara sistem tersebut dalam keadaan yang memungkinkan sistem ini untuk memenuhi kebutuhan manusia akan produksi atau jasa pelayanan dalam jangka panjang. Sedang yang dimaksud dengan sistem-sistem ekologi hutan adalah sistem ekologi yang ditandai oleh pepohonan dan semak belukar, tidak peduli apakah pepohonan dan belukar tersebut tumbuh secara alamiah pada suatu tempat tertentu atau sengaja ditanam maupun ditabur oleh manusia. Manusia yang mengelola hutan ikut mencampuri alam dengan cara mengarahkan, mempercepat atau memperlambat perkembangan alamiah tertentu sedemikian rupa, sehingga timbul ekosistem dengan sifat-sifat tertentu yang sangat sesuai dengan keperluan manusia untuk memasok produk-produk tertentu atau untuk memenuhi fungsi-fungsi tertentu. Tugas pokok hutan adalah memberikan perlindungan terhadap bencana alam, mengatur neraca air tanah, mencegah atau mengurangi bahaya erosi, memelihara sumber-sumber genetis dan kerap kali dan juga berfungsi sebagai tempat wisata bagi manusia. Oleh karena itu sangat perlu adanya pengelolaan dan pelestarian hutan.
Lebih dari 100 tahun pengelolaan hutan sudah berjalan di Indonesia., paling tidak terhitung sejak penanaman hutan di Jawa Tengah tahun 1870-an. Orientasi pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan di Indonesia sampai tahun 2004 masih didominasi oleh pemikiran komodifikasi dalam bentuk produk unggulan yaitu “kayu-kayuan”. Orientasi pada konservasi sumberdaya alam juga komodifikatif sifatnya, ada yang ego dengan satwa gajah, burung, ular, orang hutan, eko wisata, dll. Oriemtasi lainnya pada kepentingan melakukan proteksi sumberdaya alam hutan untuk kepentingan publik, seperti menjaga dan mengatur tata air alam, mencegah terjadinya erosi, longsor, dan banjir. Orientasi ini sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam mengelola kawasan hutan.
Adapun alternatif yang telah muncul sebagai satu alternatif untuk menyelesaikan masalah yang disebabkan oleh semakin luasnya jumlah pohon yang hilang dari hutan-hutan yang ada di muka bumi dan berkurangnya penutupan bumi oleh hutan di negara-negar yang sedang berkembang yakni dengan adanya Farm Forestry (FF) atau usaha tani kehutanan dan Community Forestry (CF) atau kehutanan masyarakat. FF dan CF bertujuan membantu rakyat memecahkan masalah persediaan kayu untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, sekaligus memelihara lingkungan di mana mereka hidup melalui penanaman pohon di atas lahan usaha tani rakyat dan di sekitar desa. Kedua istilah tersebut hanyalah terminologi oleh kelompok “lian’ (the others actors) atas situasi dari suatu intervensi program ke dalam nilai-nilai masyarakat.
Seperti yang telah dijelaskan pada bahasan di atas, pihak perhutani di Kecamatan Sooko melakukan upaya-upaya untuk melakukan pelestarian hutan. Adapun upaya yang dilakukan adalah dengan adanya agroforesy. Pihak perhutani membuat petak-petak, yang setiap petaknya akan ditanami oleh tanaman pertanian. Tanaman yang ditanam seperti jagung, ketela pohon, kacang tanah, rumput gajah, dan ada beberapa petak yang ditanami buah-buahan tergantung kebutuhan masyarakat setempat. Untuk jarak tanamnya sendiri yaitu 2x3 m untuk hutan rimba, dan 3x3m untuk hutan jati yakni di sela-sela antara pohon satu dengan pohon lainnya. Agroforestry ini dicanangkan untuk menambah pendapatan masyarakat di sekitar hutan agar tidak terjadi penjarahan hutan lagi karena alasan ekonomi.
Dari pembahasan di atas, telah kita ketahui pentingnya hutan. Jika hutan mengalami kerusakan maka keseimbangan ekosistem akan terganggu pula. Dan akibat yang akan ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, dan erosi. Oleh karena itu penting adanya pengelolaan hutan, seperti dengan adanya agroforestry sebagai salah satu alternaif untuk pelestarian hutan. Akan tetapi masih perlu dipertanyakan seberapa besar pengaruh agroforestry ini terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan sebagai upaya untuk melestarikan hutan, sebab pembalakan dan alih fungsi lahan ini terjadi karena alasan ekonomi.Oleh karena itu saya menganggap penting membuat skripsi dengan judul “Perbandingan Sikap, Perilaku, Serta Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar Hutan Dengan Adanya Agroforestry Sebagai Upaya Pelestarian Hutan Di Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo “
B.Rumusan Masalah
1.Bagaimana sikap masyarakat di sekitar hutan jati dan hutan rimba terhadap adanya agroforestry ?
2.Bagaimana perilaku masyarakat di sekitar hutan jati dan hutan rimba terhadap adanya agroforestry?
3.Bagaimana dampak agroforestry terhadap sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan jati dan hutan rimba?
C.Tujuan Penelitian
1.Mengetahui sikap masyarakat di sekitar hutan jati dan hutan rimba terhadap adanya agroforestry
2.Mengetahui . perilaku masyarakat di sekitar hutan jati dan hutan rimba terhadap adanya agroforestry.
3.Mengetahui dampak agroforestry terhadap sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan jati dan hutan rimba.
D.Kegunaan Penelitin
1.Peneliti
Peneliti dapat mengetahui seberapa besar pengaruh agroforestry ini terhadap sikap, perilaku, dan sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan, sehingga bisa diketahui keefektifan agroforestry ini dalam upaya pelestarian hutan. Dengan demikian peneliti bisa memberikan masukan-masukan kepada pihak perhutani, untuk langkah selanjutnya yang lebih baik. Selain itu peneliti akan lebih tahu masalah-masalah kehutanan, sehingga akan mempengaruhi perilaku selanjutnya terhadap hutan.
2.Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi masyarakat, yakni masyarakat akan lebih paham tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan. Dengan kesadaran tersebut maka masyarakat diharapkan sadar akan pentingnya agroforestry ini dan melaksanakannnya dengan baik, terutama masyarakat di sekitar hutan.
3. Perhutani
Dengan adanya penelitian tentang pengaruh agroforestry terhadap pendapatan masyarakat dan upaya pelestarian hutan ini, maka pihak perhutani akan tahu sejauh mana pengaruh adanya program agroforestry ini. Sehingga akan menentukan kebijakan-kebijakan selanjutnta. Jika terbukti berhasil maka program ini akan diteruskan dan ditingkatkan. Akan tetapi jika hasilnya kurang memuaskan, maka akan dilakukan kebijakan-kebijakan baru.
E.Asumsi Peneliti
Agar penelitian ini lebih terarah dan tidak terlalu luas permasalahannya, maka penelitian ini mempuyai asumsi atau anggapan untuk mendasari, yaitu :
1. Untuk mengetahui sikap dan perilaku seseorang dapat diukur dengan skala sikap dan perilaku.
2.Data yang diperoleh dengan angket diasumsikan benar, karena apa yang diinformasikan oleh responden merupakan ungkapan yang sesungguhnya dialami dan tanpa paksaan dari pihak lain.
F.Ruang Lingkup Penelitian Dan Jabaran Variabel
1.Penelitian hanya dilakukan di 2 hutan di Kecamatan Sooko, yakni hutan rimba (RPH Sooko) hutan yang bertanaman pohon pinus. Serta hutan jati yang bertanaman jati (RPH Gunung Tukul).
2.Masyarakat yang diteliti adalah masyarakat yang berada di desa sekitar hutan yang merupakan MPSDH (Masyarakat Pengelola Sumber Daya Hutan).
3.Variabel penelitian terdiri dari dua variabel. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.1 berikut ini:
Tabel 1.1 Jabaran Variabel Penelitian
Variabel
Sub variable
Indikator
Jenis data
Teknik pengumpulan data
Perilaku
Sikap
Kondisi Sosial
Kondisi Ekonomi
-Partisipasi masyarakat sekitar hutan terhadap agroforestry
Sikap masyarakat sekitar terhadap agroforestry
-Pengembangan pendidikan
- Mata pencaharian
-Stratifikasi soaial
-Kondisi rumah
- Pendapatan petani
- Luas lahan petani
-Pengeluaran petani
-Pemanfaatan
-Pemeliharaan
-Tindakan masyarakat
-Afeksi/perasaan masyarakat sekitar hutan terhadap agroforestry
-Kognisi/keyakinan masyarakat sekitar hutan terhadap agroforestry
-Konasi/kecendrungan berprilaku masyarakat sekitar hutan terahadap agroforestry
-tingkat pendidikan anak responden
- Jenis pekerjaan responden
-Jabatan responden dalam masyarakat
-bangunan rumah responden
Pendapatan perbulan oleh responden dan anggota keluarga respoden
-Luas lahan yang dimiliki oleh petani
-biaya buruh
-biaya sekolah
-biaya untuk makan-biaya untik listrik
Primer
Primer
Primer
Primer
Wawancara, dokumentasi, observasi
.
Wawancara, dokumentasi
Wawancara
Wawancara
G.Definisi Operasional
Untuk menghindari penafsiran atau interpretasi yang berbeda mengenai istilah pada penelitian ini memandang perlu untuk memberikan batasan-batasan sebagai berikut:
1.Hutan
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang berisi SDA hayati yang didominasi pepohonan dan persekutuan alam lingkungan yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.
2.Perilaku
Upaya atau tindakan nyata dilakukan responden untuk memecahkan masalah kebutuhan hidupnya sehari-hari. Perilaku yang dimaksud adalah aktivitas dalam memanfaatkan dan memelihara lingkungan dalam daftar pernyataan.
3. Sikap
Sikap adalah bentuk evaluasi perasaan seseorang terhadap sesuatu hal. Sikap dalam penelitian ini meliputi perasaan, keyakinan, dan kecenderungan berperilaku dalam pelestarian lingkungan dengan menggunakan skala likert.
4. Kondisi Sosial
Kondisi sosial adalah keadaan masyarakat yang didasarkan pada pengembangan pendidikan, mata pencaharian, stratifikasi sosial dan kondisi rumah.
5.Kondisi Ekonomi
Kondisi sosial adalah keadaan masyarakat yang didasarkan pada pendapatan, luas lahan pertanian, pengeluaran petani.
6. Agroforestry
Agroforestry adalah suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan, mengkombinasikan produksi tanaman(termasuk tanaman pohon-pohonan0 dan tanaman hutan atau hewansecara berurutan atau bersamaan pada unit lahanyang sama dengan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan kebudayaan penduduk setempat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.Pengertian Hutan
Menurut UUPK Pasal 1 ayat 1 disebutkan pengertian hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkumgannya dan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai hutan. Dalam penjelasan pasal ini disebutkan bahwa hutan sebagai suatu lapangan yang cukup luas bertumbuhan kayu, bambu dan palem yang bersama-sama dengan tanahnya, beserta isinya baik berupa nabati maupun hewani, secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup yang mempunyaikemampuan untuk memberikan manfaat-manfaat produksi, perlindungan dan manfaatlainnya secara lestari.Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa hutan merupakan suatu ekosistem alam, antara lapangan, tanah, dan tumbuhan pepohonan di atasnya serta alam lingkungannya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Hutan berdasarkan pemilikannya terbagi atas 2 yaitu :
1.Hutan negara adalah kawasan hutan yang tumbuh di atas tanah yang tidak dibebani hak milik. Semua hutan yang tumbuh di atas tanah yang diberikan kepada daerah swatantra dengan hak pakai atau hak pengelolaan mempunyai status sebagai hutan negara.
2.Hutan milik, adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik.
Menurut Arifin (2001:15) Hutan dibedakan menjadi beberapa kelompok berdasarkan fungsinya sebagai berikut :
a). Fungsi lindung
b). Fungsi produksi
c). Fungsi lain-lain
B. Upaya Pelestarian Hutan
Mengingat pentingnya hutan bagi kelangsungan suatu ekosistem maka hutan perlu dilestarikan. Meskipun hutan termasuk sumberdaya yang dapat dipulihkan, akan tetapi pemulihan hutan memerlukan waktu yang lama. Apabila hutan rusak maka bencana alam akan terjadi. Hutan juga sebagi penjaga keseimbangan air dan iklim di dunia. Sehingga jika hutan rusak, maka akan terjadi kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim penghujan, serta iklim yang tidak menentu. Oleh karena itu jangan biarkan hutan ini menjadi padang rumput atau gurun.
Pelestarian hutan memiliki arti pemanfaatan hutan secara lestari dan pengawetan berbagai sumberdaya alam yang berada di dalam maupundi sekitar hutan. Adapun istilah lain mengatakan pelestarian hutan adalah proses dan pengelolaan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga secara terus menerus dapat memberikan produksi yang diharapkan tetapi tidak mengurangi fungsi hutan dan tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan.
C.Agroforestry Sebagai Suatu Upaya Dalam Pelestarian hutan
Dalam rangka pelestarian hutan maka dilakukanlah sebuah pola yang dinamakan dengan istilah agroforestry. Pengertian Agroforestry menurut King dan Chandler, 91978):
“ Suatu sistem pengelolaan lahan dengan berasaskan kelestarian, yang meningkatkan hasil lahan secara keseluruhan, mengkombinasikan produksi tanaman(termasuk tanaman pohon-pohonan0 dan tanaman hutan atau hewansecara berurutan atau bersamaan pada unit lahanyang sama dengan menerapkan cara-cara pengelolaan yang sesuai dengan kebudayaan penduduk setempat”.
Menurut Nair 1989 :
“ Agroforestry merupakansuatu nama kolektif untuk sistem-sistem penggunaan lahan teknologi, di mana tanaman keras berkayu(pohon-pohon perdu, jenis-jenis palm, bambu)ditanam dengan tanaman pertanian dan atau hewan dan dengan suatu tujuan tertentu dalam suatu bentuk pengaturan spasial atau urutan temporal, dan di dalamnya terdapat interaksi-interaksiekologi dan ekonomi di antara berbagai komponen yang bersangkutan,”.
Manfaat dari Agroforestry adalah :
a). Di dapat tanaman yang tidak sejenis dan tidak seumur dari 2 strata atau lebih dengan pola tanaman sedemikian rupa. Erosi dapat dikendalikan sampai batas yang tidak diperkenankan, serta produktivitas lahan bisa dipertahankan.
b). Petani dapat memanfaatkan hutan untuk bercocok tanam sehingga dapat menambah pendapatan dan mengurangi pengangguran.
c).Mempertahankan kelestarian sumberdaya hutan, tanah dan air
d). mendidik dan membina masyarakat atau petani di pedesaan sekitar hutan berusaha tani secara baik sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Adapun pola-pola penanaman dalam Agroforestry ini adalah :
a). Tanaman pokok, yakni jenis tanaman yang sesuai dengan kelas perusahaan hutan.
b). Tanaman pertanian, yaitu jenis tanaman pertanian semusim selama waktu kurang dari 4 tahun yang ditentukan olek KTH sendiri.
c). tanaman pengisi, jumlah 20% dari jumlah tanaman pokok jenisnya sesuai dengan kebutuhan, serta sesuai dengan dialog KTH
d). Tanaman sisipan adalah tanaman yang disisipkan pada larikan tanaman sela.
e). Tanaman tepi, yaitu tanaman yang dibuat disekeliling tanaman, di tepi alur dan jalan pemeriksaan jenisnya diperbolehkan tanaman kehutanan.
f). Tanaman pagar adalah tanaman yang dibuat di sekeliling tanaman di tepi alur dan jalan pemeriksaan yang berfungsi sebagai batas luar lahan. Jenisnya boleh bukan dari tanaman perhutanan.
g). Tanaman sela, yakni tanaman yang ditanam di antara tanaman pokok, yaitu berfungsi sebagai lahan dan juga sebagai sumber energi kayu bakar serta makanan ternak.
D. Sikap
1.Pengertian
Sikap adalah suatu bentuk evaluasi ( penilaian) atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap suatu objek adalah perasaan mendukung atau memihak (favorable) maupun perasaan tidak mendukung atau tidak memihak (un vaforable) pada objek tersebut (Berkowitz,1972 dalam Azwar,1995: 5). Dari devinisi yang diuraikan Berkowitz jelas bahwa sikap seseorang terhadap suatu hal dibedakan menjadi 2 yaitu: mendukung atau tidak mendukung. Sedangkan menurut dua ahli lainnya yaitu: Secord dan Backman (dalam Azwar,1995: 5) mendefinisikan sikap sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi ), kognisi (pemikiran), dan konasi (predisposisi tindakan) seseorang terhadap suatu aspek dilingkungan sekitarnya, disini nampak sekali adanya konselasi komponen- komponen afeksi, kognisi, dan konasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Skema 2.1 berikut ini:
Skema 2.1 Konsepsi Skematik Rosenberg dan Hovland mengenai sikap.
Sumber: Azwar, 1995.
Dalam Skema 2.1 terlihat bahwa sikap seseorang terhadap suatu hal atau objek selalu berperan sebagai perantara untuk merespon objek atau hal yang ada disekitarnya. Respon itu diklasifikasikan dalam tiga macam yaitu respon kognitif (respon persektual dan pernyataan mengenai apa yang diyakini), respon afektif (respon saraf simpatetik dan pernyataan afeksi), serta respon perilaku atau konatif (respon berupa tindakan dan pernyataan mengenai perilaku). Masing-masing klasifikasi respon ini berhubungan dengan ketiga komponen sikapnya.
2.Struktur dan Pembentukan Sikap
a.Struktur Sikap
Beberapa pengertian sikap yang telah diuraikan pada uraian sebelumnya agar lebih fleksibel dan tidak terikat pada definisi tertentu saja maka tidak satupun diantara pandangan mengenai sikap tersebut yang kita pegang secara eksklusif. Fleksibilitas itu diperlukan disini dikarenakan kenyataan bahwa untuk memahami masalah sikap tidaklah mudah dilakukan dengan hanya mempunyai satu batasan saja.
Struktur sikap terdiri atas tiga komponen. Komponen ini tidak bisa dipisahkan karena berkaitan satu dengan lainnya yang nantinya memudahkan dalam melakukan penilaian tentang sikap. Komponen Sikap terdiri atas tiga komponen yang saling menunjang yaitu komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen konatif (Azwar, 1995: 26).
1)Komponen afektif
Secara umum komponen ini biasanya disamakan dengan perasaan yang dimiliki seseorang terhadap sesuatu. Perasaan ini menyangkut pada aspek emosional seseorang. Sebagai contoh sikap negatif terhadap daging kuda dapat mengambil bentuk perasaan aneh terhadap daging kuda ataupun bentuk rasa takut kalau-kalau daging kuda mengandung sesuatu yang tidak baik bagi kesehatan.
2)Komponen kognitif
Merupakan representasi dari apa yang dipercayai atau diyakini oleh setiap individu pemilik sikap. Kepercayaan atau keyakinan tersebut muncul dari apa yang telah kita lihat ataupun dari yang kita ketahui, kemudian dari situ akan terbentuk ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek. Biasanya kepercayaan itu menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai objek atau hal tertentu. Kepercayaan datang dari apa yang telah kita lihat atau apa yang telah kita ketahui.
3)Komponen konatif
Merupakan aspek predisposisi tindakan atau dengan kata lain adalah kecenderungan berperilaku sesuai sikap yang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapi. Sehingga terkadang kepercayaan dan perasaan akan mempengaruhi seseorang dalam berperilaku. Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan membentuk sikap tiap individu. Sehingga sangat logis jika kita berfikir bahwa sikap seorang akan tercermin dalam perilaku baik itu perkataan atau pun perbuatannya.
b.Pembentukan Sikap
Sikap seseorang terbentuk karena adanya interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Sesuai dengan pernyataan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain atau dengan kata lain selalu berinteraksi dengan manusia dan alam sekitarnya yang biasa disebut sebagai “makhluk sosial”. Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap seseorang adalah pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, institusi atau lembaga pendidikan, serta faktor emosi di dalam diri individu (Azwar 1995: 30-38).
Faktor-faktor yang mempengaruhi sikap manusia yaitu:
1) Pengalaman pribadi
Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap, sedangkan tanggapan dan penghayatan bisa didapatkan dari pengalaman. Pengalaman yang telah kita alami akan mempengaruhi terhadap stimulus sosial. Middlebrook (dalam Azwar 1988: 25) mengatakan bahwa tak adanya pengalaman sama sekali dengan suatu hal atau obyek maka cenderung akan membentuk sikap negatif terhadap obyek atau hal tersebut. Dari uraian itu bisa dikatakan bahwa jika seseorang tidak punya pengalaman atau pengetahuan tentang suatu hal atau obyek maka akan cenderung memiliki pandangan yang negatif lebih dulu. Sehingga untuk dapat menjadi dasar pembentuk sikap yang nantinya akan mempengaruhi perilaku maka pengalaman pribadi itu haruslah melalui kesan yang kuat pada tiap individu. Dengan kata lain bahwa pengalaman penting dalam membentuk sikap seseorang.
2)Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Pembentukan sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu tidak lepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Pengaruh itu biasanya datang dari seseorang yang kita anggap sejalan terhadap kita dan kita anggap penting dalam perjalanan hidup kita (Azwar, 1995: 32). Misalnya saja orang tua yang kita hormati, kita akan cenderung mengikuti tingkah laku ataupun perkataan mereka. Bahkan tidak menutup kemungkinan tokoh-tokoh lainnya yang kita idolakan. Hendaknya pengaruh orang lain tersebut haruslah sesuai dengan tujuan kita agar tidak memberi dampak yang negatif atau tidak baik.
3)Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan yang ada disekitar kita sangat berpengaruh terhadap pembentukan sikap dan pembentukan pola perilaku kita. Pembentukan itu dikarenakan kita mendapat penguatan (reinforcement) dari masyarakat yang ada sekitar tempat tinggal kita (Azwar, 1995: 33).
4)Media Massa
Pesatnya perkembangan teknologi dalam bidang komunikasi juga mempengaruhi pembentukan opini atau kepercayaaan orang. Dimana sarana komunikasi seperti media massa baik itu koran, televisi dan lainnya memuat pesan berisi sugesti yang nantinya akan dapat mengarahkan opini seseorang. Adanya informasi-informasi baru akan membentuk landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap pada suatu hal atau objek. Pesan-pesan sugesti tadi apabila cukup kuat akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal yang akan membentuk atau mengarahkan sikap seseorang (Azwar, 1995: 34).
5)Lembaga Pendidikan
Lembaga pendidikan sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap, ini disebabkan karena didalamnya melekat dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman antara yang baik dan buruk, yang boleh dan tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan, baik itu pendidikan formal, non formal ataupun informal. Dikarenakan konsep moral sangat menetukan sistem kepercayaan, maka tidaklah mengherankan kalau kemudian konsep tersebut ikut berperan dalam menetukan sikap diri individu terhadap suatu hal (Azwar. 1995: 35).
6)Alam
Manusia adalah makhluk yang memiliki akal pikiran. Manusia diberikan kemampuan untuk memanfaatkan alam semaksimal mungkin. Tanpa harus merusak keseimbangan alam dalam rangka pelestarian lingkungan. Manusia dalam kehidupannya selalu berinteraksi dengan lingkungannya, baik itu lingkungan sosial ataupun lingkungan alam sekitarnya.
Alam mempengaruhi sikap manusi. Begitu pula manusia dapat mempengaruhi alam. Seperti yang ditulis Wiliam Kirk, ia menyusun struktur lingkungan geografi yang digolongkan menjadi lingkungan tata laku dan lingkungan fenomena (Bintarto, 1979: 22). Konsep mengenai kaitan antara manusia dengan lingkungannya merupakan konsep dasar dalam geografi. Ahli geografi mengartikan lingkungan sebagai semua keadaan yang mengelilingi manusia di setiap tempat di permukaan bumi (Bintarto, 1979: 27). Sehingga alam dapat membentuk sikap dan nantinya akan mempengaruhi perilaku manusia dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial dan lingkungan alam sekitarnya.
Manusia tidak bisa lepas dari alam dalam setiap kehidupannya sepanjang hari. Unsur-unsur alam menentukan pola hidup manusia. Sesuai dengan faham determinisme yang menyatakan bahwa”hidup dipengaruhi olaeh cuaca, iklim, musim, persediaanair, jenis tanah, lahan, serta flora dan fauna”(Daldjoeni, 1991: 13). Dari pandangan tersebut jelas sudah bahwa makin tinggi teknologi hasil karya manusia maka semakin alam dikuasainya dan makin kecil pengaruhnya padalingkungan.
E. Perrilaku Masyarakat
Manusia selalu dihadapkan pada berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Masalah itu menyangkut tiga pertanyaan mendasar yakni apa yang sebenarnya terjadi, untuk apa masalah itu dipecahkan, dan bagaimana cara pemecahannya. Berdasarkan hal tersebut maka manusia menentukan suatu penyelesaian terhadap masalah yang dihadapinya (Prawiroatmodjo dalam Oetomo, 1994: 23).
Pemecahan suatu masalah oleh setiap orang akan dimulai dengan mencari jawaban atas masalah yang sedang dihadapinya. Setelah itu barulah ia akan mencari landasan pemecahannya. Pemecahan yang bersumber dari pengalaman ataupun dari pengetahuan yang berasal dari dirinya sendiri ataupun dari orang lain saat berinteraksi. Atas dasar rumusan pemecahan masalah yang dibangun atas pengalaman dan pengetahuan tersebut itulah seseorang akan bertindak. Tindakan manusia itulah yang dinamakan perilaku.
Menurut Prawiroatmodjo (dalam Oetomo 1994: 24) menerangkan bahwa” Perilaku adalah upaya-upaya manusia yang dilakukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi sehari-hari, baik dalam bentuk yang sederhana maupun yang kompleks, dengan secara sadar atau tidak”. Tanpa sadar disini maksudnya adalah tanpa pertimbangan sesuatu secara rasional dan logis.
Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai-nilai, sifat pribadi, dan sikap yang saling berinteraksi dengan orang lain serta kemudian berinteraksi pula dengan faktor-faktor lingkungan dalam menentukan perilaku. Faktor lingkungan memiliki peranan besar dalam menetukan perilaku bahkan terkadang lebih besar dari karakteristik individu itu sendiri. Lingkungan alam atau lingkungan sosial sangat mempengaruhi manusia dalam menyikapi dan menentukan tindakan yang akan diambil. Hal inilah yang menjadikan prediksi perilaku menjadi lebih kompleks.
Untuk tidak sekedar memahami tetapi juga memprediksi perilaku maka Icek Ajzen dan Martin F (dalam Azwar 1995: 11) mengemukakan Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned Action). Dengan mencoba melihat anteseden penyebab perilaku volisional (perilaku atas kemauan sendiri) teori ini didasarkan atas asumsi-asumsi yaitu a) bahwa manusia pada umumnya melakukan sesuatu dengan cara-cara yang masuk akal, b) manusia mempertimbangkan semua informasi yang ada, c) secara eksplisit maupun implinsit manusia memperhitungkan implikasi tindakan yang mereka lakukan.
Untuk melakukan sesuatu yang kita inginkan haruslah di sesuaikan dengan kondisi yang ada, dipikirkan dengan masuk akal dan apakah bermanfaat bagi kita dengan tidak mengganggu lingkungan sekitar kita dalam hubungannya dengan manusia dan lingkungan alam. Agar lebih jelasnya perhatikan Skema 2.2 berikut ini:
Skema 2.2 Teori Tindakan Beralasan
Sumber: Azwar, 1995.
Dalam Skema 2.2 dapat dijelaskan bahwa sikap mempengaruhi perilaku seseorang lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan, dan dampaknya terbatas hanya pada tiga hal. Pertama, perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap spesifik terhadap sesuatu. Kedua, perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tapi oleh norma-norma subyektif yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan untuk kita perbuat. Ketiga, sikap terhadap suatu perilaku bersama norma-norma subjektif membentuk suatu niat untuk berperilaku.
Perilaku secara luas tidak hanya dapat ditinjau dari sikap manusia saja, tapi banyak faktor eksternal maupun internal yang mempengaruhi dalam lingkungannya. Dan pada gilirannya lingkungan secara timbal balik akan mempengaruhi sikap dan perilaku. Interaksi antara situasi lingkungan dengan sikap, dengan berbagai faktor di dalam maupun diluar diri individu akan membentuk suatu proses komplek yang akhirnya menentukan bentuk perilaku sesorang (Azwar, 1995: 13-14).
F. Perilaku Masyarakat Terhadap Pelestarian Hutan
Pengelolan lingkungan merupakan salah satu wujud dari perilaku. Sifat khas dari segi geografinya, terlihat dari penelaahan geografi yang berhubungan dengan keruangan ialah tempat manusia tinggal dan hubungannya dalam timbal balik antara lingkungan fisik dan lingkungan sosial maksudnya adalah lingkungan alam dan manusia. Seseorang yang mempunyai sikap positif terhadap lingkungan, maka akan cenderung berperilaku positif juga terhadap lingkungannya itu. Namun sikap dan perilaku manusia terhadap pengelolaan lingkungan kadang-kadang berlebihan, sehingga hal ini mengakibatkan kerusakan ekosistem.
Pengelolaan hutan yang mengandung srti kegiatan manusia secara keseluruhan yang untuk mengarahkan sistem ekologi hutan atau memelihara sistem tersebut dalam keadaan yang memungkinkan sistem ini untuk memenuhi kebutuhan akan produksi dan jasa dalam pelayanan jangka panjang manusia yang mengelola hutan ikut mencampuri alam dengan jalan mengarahkan,mempercepat atau memperlambat perkembangan alamiah tertentu sedemikian rupa sehingga timbul ekosistem dengan sifat-sifat tertentu yang sangat sesuai dengan keperluan manusia untuk memasok produk-produk tertentu atau untuk memenuhi fungsi-fungsi tertentu.
Perilaku manusia itu cenderung memperlihatkan pola-pola yang teratur dalam memanfaatkan permukaan bumi dalam hal ini lingkungan alam, baik itu dalam kegiatan pertanian , pertambangan, perindustrian yang mengeksploitasi alam tanpa memperhatikan keseimbangan alam. Menurut Suryani (dalam Wahyuni, 2002: 23) sikap dan perilaku tidak positif itu disebabkan oleh: 1) masih rendahnya tingkat pengetahuan dan pendidikan, 2) masih rendahnya tingkat penghidupan, sehingga dorongan dan untuk memenuhi kebutuhan akan mengabaikan lingkungan sekitarnya, dan 3) masyarakat kurang memahami kedudukannya sebagai suatu ekosistem. Dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) selalu disebutkan bahwa dalam pembangunan dan pemanfaatan sumberdaya alam yang ada disekitarnya khususnya lingkungan hidup serta keselamatan terhadap bencana alam geologis dan disertai peningkatan pengawasan yang menyeluruh.
Hutan sebagai salah satu sumberdaya alam yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem memerlukan pengelolaan. Adanya penebangan hutan harusnya didimbangi dengan penanaman kembali. Sebenarnya lahan hutan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, karena tanah yag ada di hutan sangatlah subur karena mengandung banyak bahan organik.
Upaya untuk memanfaatkan lahan hutan bisa dilakukan dengan cara sistem tumpang sari atau pun sekarang lebih dikenal dengan istilah Agroforestry. Di sini tanaman hutan ditanam secara bersamaan dengan tanaman pertanian. Tanaman pertanian seperti jagung, padi, ketela pohon, kacang, dll di tanam di sela-sela tanman hutan. Dengan demikian hutan akan tetap terjaga kelstariannya dan masyarakat tetap bisa bercocok tanam di sini.
Dengan pola agroforestry ini, masyarakat desa di pinggiran hutan bisa memperoleh tambahan penghasilan, dan mendapat lapangan pekerjaan tanpa harus menjarah hutan. Karena telah diketahui bahwa penjarahan hutan pada tahun-tahun sebelumnya adalah dengan alasan ekonomi. Kemudian pihak Perhutani mengambil kebijakan dengan mengadakan agroforestry ini. Dalam hal ini tentunya masyarakat perlu mendapat penyuluhan oleh pihak yang berwenang yakni pihak Perhutani. Akan tetapi pendekatan dari tokoh-tokoh masyarakat juga diperlukan karena masyarakat desa biasanya akan patuh kepada orang yang mereka hormati. Semua itu dilakukan untuk menyukseskan program agroforestry agar htan tetap terjaga kelestarian hutan agr tetap bisa dimanfaatkan sampai generasi yang akan datang.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini ditinjau dari tujuannya adalah penelitian deskriptif atau studi dalam bentuk deskriptif. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara intensif dan terperinci tentang sikap, perilaku serta dampak sosial ekonomi sebagai akibat dari adanya agroforestry sebagai upaya untuk pelestarian hutan di Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan datanya dengan metode wawancara, menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data.
B.Populasi dan Sampel
1.Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat desa sekitar hutan jati RPH Gunung Tukul dan masyarakat sekitar hutan rimba RPH Sooko, yang masuk dalam MPSDH. Untuk RPH Gunung Tukul terdiri dari 1 MPSDH yang terdiri dari 4 dukuh, yaitu : Gunung Tukul, Popongan, Sepat, Mbulu. sedangkan untuk RPH Sooko terdiri dari 3 MPSDH yang terdiri dari 10 dukuh, yaitu : Sooko I, Sooko II, Sooko III, bligo, Ngresap, Srayu, Bendo, Dompyong, Kali Tengah, dan Pondok.
2.Sampel
Sampel adalah sebagian dari obyek atau individu yang mewakili suatu populasi (Tika, 2005:22). Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan metode proporsional random sampling. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap, perilaku dan dampak terhadap sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan dengan adanya agroforestry di hutan jati dan hutan rimba Kecamatan Sooko, yang meliputi 2 RPH yaitu RPH Sooko dan RPH Gunung Tukul.Untuk RPH Sooko terdiri dari 10 Dukuh, sedangkan RPH Gunung Tukul terdiri dari 4 dukuh. Menurut Arikunto (1997:112) jika subjek penelitian kurang dari 100 orang lebih baik diambil semua sehingga penelitianya merupakan penelitian populasi. Tapi jika jumlah subyeknya besar maka dapat diambil antara 10-15% atau 20-25% atau lebih.
Pengambilan populasi dalam penelitian ini berasal dari 10 Dukuh di RPH Sooko meliputi Sooko I, Sooko II, Sooko III, bligo, Ngresap, Srayu, Bendo, Dompyong, Kali Tengah, dan Pondok, dan 4 Dukuh di RPH Gunung Tukul meliputi Gunung Tukul, Popongan, Sepat, Mbulu. Sampel diambil dengan cara mengacak semua nomor-nomor sampel dalam populasi. Nomor yang keluar dianggap sebagai nomor sampel yang dikehendaki. Pengocokan selesai sesuai jumlah sampel yang dikehendaki sudah cukup sesuai dengan yang ditentukan.
C.Obyek Penelitian
Obyek penelitian ini adalah masyarakat sekitar hutan rimba RPH Sooko dan masyarakat sekitar hutan jati RPH Gunung Tukul Kecamatan Sooko Kabupaten Ponorogo.
D.Instrumen Penelitian
Instrumen merupakan alat bantu dalam memperoleh data dengan menjawab pernyataan-pernyataan yang ada dalam instrumen penelitian. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara (wawancara terstruktur) dalam penelitian ini sebagai data primer. Penyusunan instrumen disusun untuk mengukur variabel yang diteliti, yang akan diuraikan sebagai berikut:
1.Identitas responden yang berisi tentang umur, pendidikan terakhir, anggota keluarga, jenis pekerjaan, lama bekerja, pendapatan, jenis pekerjaan sampingan, lama bekerja sampingan, pendapatan sampingan, dan jenis kelamin.
2.Untuk mengetahui sikap masyarakat hutan terhadap adanya agroforestry akan digunakan kuisioner dan diukur dengan skala likert.
Instrumen dengan pedoman wawancara ini menggunakan model skala likert sistem penilaian ini menggunakan 5 alternatif pilihan jawaban. Menurut Arikunto (2002: 214) jika pembaca bependapat bahwa adanya kelemahan 5 alternatif pilihan jawaban karena responden cenderung memilih alternatif jawaban yang ada ditengah-tengah (karena dirasa aman dan paling gampang karena hampir tidak berpikir) dan ada benarnya juga, sehingga disarankan menggunakan alternatif pilihan jawaban hanya empat saja.
Penelitian ini menggunakan 4 alternatif pilihan jawaban dengan skor sebagai berikut:
SS : untuk menyatakan sangat setuju
S : untuk menyatakan setuju
K : untuk menyatakan kadang-kadang
TS : untuk menyatakan tidak setuju
3.Untuk mengetahui perilaku masyarakat hutan terhadap adanya agroforestry akan digunakan kuisioner dan diukur dengan skala likert.
Instrumen dalam pedoman wawancara ini menggunakan model skala likert. Penyususnan pilihan jawaban mengenai perilaku ini sama seperti pada penyusunan pilihan jawaban mengenai sikap dalam pedoman wawancara.
Sistem penilaian sebagai berikut:
SS : untuk menyatakan sangat sering
S : untuk menyatakan sering
K : untuk menyatakan kadang-kadang
TP : untuk menyatakan tidak pernah.
Dan untuk pendapatan petani, jumlah pengeluaran, luas lahan, pengeluaran petani dalam penelitian ini instrumennya menggunakan pedoman wawancara yang dikembangkan dari indikator-indikator jabaran variabel yang ditransformasikan menjadi item-item pertanyaan.
E.Pengumpulan Data
1.Jenis Data
a). Data Primer,
Adalah data yang diperoleh dari hasil observasi dan wawancara di lapangan . Data yang dikumpulkan adalah identitas responden, pengembangan pendidikan, mata pencaharian, stratifikasi sosial, kondisi rumah, luas lahan pertanian, pendapatan petani, dan pengeluaran petani.
b). Data sekunder,
Adalah data yang diperleh dan dikumpulkan oleh orang atau instansi tertentu. Data tersebut antara lain, peta wilayah, banyaknya petak dalam hutan,dan besarnya jumlah pemasukan dari hutan untuk petani.
2.Teknik Pengumpulan Data
a). Observasi
Merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan, pencatatan, seara sistematis terhadap gejala atau fenomena yang ada pada obyek penelitian. Teknik ini digunakan untuk memperoleh data primer, Data primer yang diperoleh adalah, kondisi fisiografis, pengelolaan hutan agroforestry, jenis tanaman.
b). Wawancara Terpimpin atau Terstruktur
Wawancara terpimpin atau terstruktur adalah wawancara yang membawa sederetan lengkap dan terperinci. Teknik ini digunakan agar wawancara terkontrol dan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Teknik ini untuk memperoleh data primer. Data primer yang diperoleh adalah pengembangan pendidikan, mata pencaharian, stratifikasi sosial, kondisi rumah, luas lahan pertanian, pendapatan petani, dan pengeluaran petani.
c). Dokumentasi
Teknik dokumentasi digunakan untuk memperoleh data sekunder. Data sekunder yang diperoleh adalah, jumlah penduduk, peta wilayah, jumlah pemasukan dari hutan untuk petani, jenis tanaman, banyaknya petak.
F.Pengolahan dan Analisis Data
1. Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan langkah selanjutnya yang akan diperlukan dalam menganalisis data primer.Tahapan selanjutnya setelah pengumpulan data dari hasil wawancara adalah pengolahan data penelitian sebagai berikut :
a. Pemeriksaan Jawaban pada pedoman wawancara (Editing)
setelah pengumpulan data dengan wawancara, maka data dalam pedoman wawancara harus di periksa. Pemerikasaan terhadap jawaban atau kelengkapan informasi sesuai pernyataan dalam pedoman wawancara dari responden ini antara lain: apakah sudah benar, lengkap, sesuai, dan memenuhi syarat dalam pengolahan data lebih lanjut.
b. Penskoran (Scoring)
Langkah selanjutnya setelah pemeriksaan jawaban dalam pedoman wawancara adalah penskoran. Pemberian skor untuk pernyataan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Skor 4 untuk pernyataan Sangat Setuju (SS)
- Skor 3 untuk pernyataan Setuju (S)
- Skor 2 untuk pernyataan Tidak Setuju (TS)
- Skor 1 untuk pernyataan Sangat Tidak Setuju (STS)
dan,
- Skor 4 untuk pernyataan Sangat Sering (SS)
- Skor 3 untuk pernyataan Sering (SS)
- Skor 2 untuk pernyataan Kadang-kadang (K)
- Skor 1 untuk pernyataan Tidak Pernah (TP).
c. Tabulating
Tahap selanjutnya adalah tahap penyusunan atau memasukkan data dan dianalisis sesuai langkah-langkah yang telah direncanakan sebelumnya dalam bentuk tabel, sehingga akan mempermudah dalam melakukan analisis.
2. Analisis Data
Data yang terkumpul merupakan data mentah yang setiap variabelnya perlu diolah dan dianalisis dengan metode deskriptif. Tabulasi data digunakan untuk mengetahui besarnya frekuensi jawaban responden, untuk menjelaskan data tersebut ditabulasikan kemudian dianalisis. Analisis ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran gambaran secara umum dari masing-masing variabel sikap, perilaku, keadaan sosiak ekonomi masyarakat. Dalam penelitian ini menggunakan tabulasi silang dan analisis persentase. Tabulasi silang bertujuan untuk melihat kecenderungan hubungan variabel-variabel yang diteliti. Sedangkan analisis presentase rumusnya sebagai berikut :
P = 100%
Keterangan : P = persentase
F = frekuensi
N = total responden
Sumber: Azwar, 1999: 48.
Kemudian untuk mempermudah menentukan analisis dalam penelitian digunakan klasifikasi persentase jawaban responden. Pengklasifikasian dari jawaban responden baik itu sikap dan perilaku dapat dilihat pada Tabel 3.1, Tabel 3.2, Tabel 3.3. dan Tabel 3.4 berikut ini :
Tabel 3.1 Klasifikasi Penafsiran Sikap
No.
Klasifikasi
Kategori
1.
21-53
Tidak mendukung
2.
54-84
Mendukung
Sumber : Azwar,1999:117
Tabel 3.2 Klasifikasi Penafsiran Perilaku
No.
Klasifikasi
Kategori
1.
< 16
Kurang
2.
16-24
Cukup
3.
> 24
Baik
Sumber:Azwar,1999:109.
Tabel 3.3 Kriteria Persentase
No.
Persentase
Kriteria
1.
0%–9,99%
Sangat rendah
2.
10%-39,99%
Rendah
3.
40%-59,99%
Sedang
4.
60%-89,99%
Tinggi
5.
90%-100%
Sangat tinggi
Sumber Suripan (1988:61)
Sedangakan untuk mengukur kriteria pendapatan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.4 Tingkat pendapatan
No.
Tingkat Pendapatan
Keterangan
1.
< 408.305
Sangat rendah
2.
408.305-< 1.225.050
Rendah
3.
1.225.050-< 2.041.750
Sedang
4.
2.041.750-< 3.675.150
Menengah
5.
> 3.675.150
Tinggi
Sumber Suripan (1988:61)
Senin, 29 Desember 2008
Senin, 22 Desember 2008
OSEANOGRAFI
Tugas
KEHIDUPAN DASAR LAUT
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Oseanografi
Yang dibina oleh Bapak Bagus Setiabudi Wiwoho

Oleh :
APRILIA DWI JAYANTI (206351401037)
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN GEOGRAFI
November 2008
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang atas segala rahmat dan hidayahNya, hingga terselesaikanlah makalah ini.
Makalah ini berjudul “ Kehidupan Dasar Laut ”.
Pada kesempatan ini diucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Bagus selaku dosen matakuliah Oseanografi serta semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dimakalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini sangat kami harapkan.
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bumi itu sangatlah unik dalam system tata surya bumi memiliki kuantitas air yang banyak sekali. Hal ini terbukti dengan adanya lautan yang menutupi bumi kira-kira 140 juta dari total 200 juta mil2 permukaan bumi. Maka lautan di dunia menempati 70% dari bumi. Menurut volumenya, bumi mengandung 350 juta mil3 air. Selain itu lautan mengandung 3,5% garam tak larut sama dengan 165 juta ton garam per mil3, dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa air merupakan sumber bumi yang didalamnya terdapat satu mobile ore terbesar di permukaan bumi.
Lautan sangat penting bagi kehidupan di permukaan bumi. Pertama, lautan secara garis besar mempengaruhi hampir semua proses permukaan bumi. Kedua, lautan mengatur proses geologis weathering/pelapukan (kerusakan bahan geologis seperti batu karang dan mineral) dan kerusakan erosi (yang melibatkan transportasi bahan dalam air). Ketiga, air laut tidak hanya mendukung kehidupan tetapi juga menjamin pertumbuhan dinamikanya selama ratusan juta tahun evolusi sehingga memungkinkan kehidupan tetap ada sampai saat ini dalam bentuk dan ukuran yang tak terhitung mulai dari mikroorganisme sampai organisme laut tingkat tingi seperti ikan paus.
Seperti telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, bahwa laut mendukung kehidupan sehingga didalam laut terdapat suatu ekosistem. Ekosistem merupakan suatu unit fungsional dari berbagai ukuran yang tersusun dari komponen-komponen biotik maupun abiotik yang saling berinteraksi. Komponen-komponen dan sistem tersebut secara keseluruhan berfungsi berdasarkan suatu urutan kegiatan yang menyangkut energi dan pemindahan energi. Ekosistem air laut luasnya lebih dari 2/3 dari permukaan bumi (kurang lebih 70%). Karena luasnya dan potensinya yang sangat besar, maka ekosistem laut ini menjadi perhatian orang banyak terutama yang berkaitan dengan ”Revolusi Biru”. Adapun ciri-ciri ekosistem laut, meliputi:
- Memiliki kadar mineral yang tinggi, ion terbanyak ialah Clorida sebanyak 55%, namun kadar garam di laut bervariasi ada yang tinggi (seperti daerah tropika) dan ada yang rendah (di laut beriklim dingin)
- Ekosistem air laut tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.
Ekosistem lautan merupakan sistem akuatik yang terbesar di planet bumi. Ukuran dan kerumitannya menyulitkan kita untuk dapat membicarakannya secara utuh sebagai satu kesatuan. Akibatnya, dirasa lebih mudah jika membaginya menjadi subbagian yang lebih dapat dikelola. Selanjutnya, masing-masing dapat dibicarakan berdasarkan prinsip-prinsip ekologi yang menentukan kemampuan adaptasi organisme suatu komunitas. Dengan demikian, untuk lebih jelasnya akan dibahas dalam makalah ini.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana bagian-bagian lingkungan laut?
1.2.2 Bagaimana rantai makanan yang terjadi di perairan laut?
1.2.3 Bagaimana adaptasi biota di laut dalam
1.2.4 Apa pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap budidaya laut?
1.3. Tujuan
1.3.1. Mengetahui bagian-bagian laut
1.3.2. Mengetahui rantai makanan di perairan laut
1.3.3. Mengetahui adaptasi biota di laut dalam
1.3.4. Mengetahui pengaruh faktor-faktor lingkungan terhadap budidaya laut
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Bagian-Bagian Lingkungan Laut
Lautan merupakan habitat terbesar di bumi. Dibalik selubung kebiruannya, masih tersimpan banyak rahasia yang belum terungkap. Hingga kini sebagian besar kehidupan di laut dalam belum benar-benar diketahui.
Secara umum, wilayah perairan laut yang luas ini dikelompokkan dalam lima bagian. Samudra Pasifik, Samudra Atlantik, Samudra India, Laut Selatan, dan Laut Arktika. Karena itu tipelogi kehidupan laut berdasarkan pembagian areanya dikelompokkan dalam lima bagian ini.
Terlepas dari klasifikasi, menelusuri kehidupan di lautan memang tak kalah menarik dibanding kehidupan di daratan. Bahkan kehidupan di lautan lebih kompleks, lebih variatif, dan lebih tertutup. Dari wilayah pantai, lautan dangkal, selat, teluk, sampai lautan dalam, samudra luas, bahkan palung-palung laut.
Struktur lantai lautan juga bergunung-gunung, berlembah, dan berpalung. Semuanya punya sistem kehidupan sendiri-sendiri yang sangat variatif dan beragam. Tergantung tingkat kedalaman air, kemampuan sinar matahari menembus laut, suhu, iklim, dan arus air.
Paul Bennet dalam The Natural World – Under The Ocean, memaparkan bahwa para ilmuwan telah membagi lautan menjadi lapisan atau zona yang jelas. Ada kawasan yang disebut perairan dangkal, zona twilight, lautan dalam.
Bagian laut yang terdekat dengan kehidupan daratan adalah perairan dangkal yaitu wilayah laut yang dekat dengan tepi pantai. Zona ini mendapat limpahan cahaya matahari yang berkecukupan. Kehidupan di zona ini sangat beragam dan tempat yang paling disukai ikan-ikan yang kita kenal.
Setelah perairan dangkal zona berikutnya adalah zona twilight. Yaitu kawasan perairan yang masih bisa ditembus matahari walau tak “semewah” perairan dangkal. Zona ini bisa dikatakan batas jangkauan matahari mampu menembus lapisan lautan. Karena itu kehidupan di sini mulai sedikit, namun masih bisa ditinggali jenis-jenis bunga karang. Ikan berukuran besar juga suka berada di antara zona twilight ini atau mengapung di permukaan laut dalam.
Zonasi lautan yang paling gelap dan dingin adalah laut dalam (termasuk palung laut). Masih sedikit sekali yang diketahui tentang kehidupan di zona ini.
Lautan dalam adalah zonasi yang paling misterius dan sangat tidak ramah. Suasanananya seram, gelap, pekat. Kegelapannya hampir serupa dengan lubang gua terdalam di bumi.
Kegelapan abadi di laut dalam terjadi karena sinar matahri tak bisa menembusnya. Cahaya “kehidupan” itu hanya bisa mencapai kedalaman 1.000 meter. Ini berpengaruh pula pada suhunya yang sangat dingin dan tekanan air yang luar biasa besar.
Begitu pun, penelitian terakhir menunjukkan bahwa di zona ini pun masih juga dihuni mahluk hidup. Hewan-hewan laut dalam ini adalah mahluk istimewa yang punya adaptasi khusus dengan lingkungannya yang sangat ektrim dan keras.
Biasanya hewan-hewan laut dalam ini punya kemampuan mengeluarkan cahaya, warna-warni indah di kegelapan. Bentuk-bentuk hewan laut dalam ini juga sangat aneh dan tidak lazim seperti kehidupan di dua zonasi yang mendapat sinar mentari.
Beberapa spesies yang sudah dikenali dari lautan hitam yang dingin ini seperti ubur-ubur kaca, ikan pengail (angler fish), belut penelan, ikan tripod (tripod fish), ikan ekor.
Habitat air laut (oceanic) ditandai oleh salinitas yang tinggi dengan ion Cl- mencapai 55% terutama di daerah laut tropik, karena suhunya tinggi dan penguapan besar. Di daerah tropik, suhu laut sekitar 25°C. Perbedaan suhu bagian atas dan bawah tinggi. Batas antara lapisan air yang panas di bagian atas dengan air yang dingin di bagian bawah disebut daerah termocline.
Di daerah dingin, suhu air laut merata sehingga air dapat bercampur, maka daerah permukaan laut tetap subur dan banyak plankton serta ikan. Gerakan air dari pantai ke tengah menyebabkan air bagian atas turun ke bawah dan sebaliknya, sehingga memungkinkan terbentuknya rantai makanan yang berlangsung balk. Habitat laut dapat dibedakan berdasarkan kedalamannya dan wilayah permukaannya secara horizontal.
1. Menurut kedalamannya, ekosistem air laut dibagi sebagai berikut.
· Litoral merupakan daerah yang berbatasan dengan darat.
· Neretik merupakan daerah yang masih dapat ditembus cahaya matahari sampai bagian dasar dalamnya ± 300 meter.
· Batial merupakan daerah yang dalamnya berkisar antara 200-2500 m
· Abisal merupakan daerah yang lebih jauh dan lebih dalam dari pantai (1.500-10.000 m).
Gambar 1. Pembagian Ekosistem air laut berdasaarkan kedalamannya

2. Menurut wilayah permukaannya secara horizontal, berturut-turut dari tepi laut semakin ke tengah, laut dibedakan sebagai berikut :
· Epipelagik merupakan daerah antara permukaan dengan kedalaman air sekitar 200 m.
· Mesopelagik merupakan daerah dibawah epipelagik dengan kedalaman 200 1000 m. Hewannya misalnya ikan hiu.
· Batiopelagik merupakan daerah lereng benua dengan kedalaman 200-2.500 m. Hewan yang hidup di daerah ini misalnya gurita.
· Abisal pelagik merupakan daerah dengan kedalaman mencapai 4.000m; tidak terdapat tumbuhan tetapi hewan masih ada. Sinar matahari tidak mampu menembus daerah ini.
· Hadal pelagik merupakan bagian laut terdalam (dasar). Kedalaman
lebih dari 6.000 m. Di bagian ini biasanya terdapat lele laut dan ikan Taut yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen di tempat ini adalah bakteri yang bersimbiosis dengan karang tertentu.
Di laut, hewan dan tumbuhan tingkat rendah memiliki tekanan osmosis sel yang hampir sama dengan tekanan osmosis air laut. Hewan tingkat tinggi beradaptasi dengan cara banyak minum air, pengeluaran urin sedikit, dan pengeluaran air dengan cara osmosis melalui insang. Garam yang berlebihan diekskresikan melalui insang secara aktif.
Organisme-organisme yang hidup di laut antara satu pembagian daerah dengan daerah lain berbeda-beda. Berikut gambarannnya :
Organisme yang terdapat di zona Pelagic laut : (a) Chaetoceros; (b) Biddulphia; (c) Nitzchia; (d) Gymnodinium; (e) Tallassiosira; (f) ceratium; (g) Coccolithophoorids; (h) Favella; (i) Globigerina; (j) Protocystis; (k) Clione; (l) Calanus; (m) Pelagia; (n) Tomopteris; (o) Saggita; (p) Euphausia; (q) Balaenoptera; (r) Physeter; (s) Apherusa; (t) Cylocsalpa.
Ikan-ikan yang terdapat di kedalaman laut: (a) Argyropelecus; (b) Bthypterois; (c) Linophryne; (d) Lasiognatus; (e) Malacostus; (f) Edriolynchus; (g) Gigantactis; (h) Macropharynx.
Binatng bentik yang terdapat di laut dalam : (a) Eremicaster; (b) Ophiura; (c) Odostomia; (d) Diastylis; (e) Ischnomesus; (f) Storthyngura; (g) Neotanais.
Organisme yang terdapat di zona neritik laut. (a) Ulva; (b) Ectocarpus; (c) Alaria; (d) Sargassum alga cokelat; (e) Rhodimenia; (f) Polyshiphonia; (g) Podon; (h) Phtisicia; (i) Thia larva; (j) Branacle nauplius; (k) Acartia; (l) Phyllosoma larva dari lobster; (m) Plathynereis; (n) Ostrea; (o) Snail Larva; (p) Larva Brittle Bintang; (q) Gadus; (r) Solea
2.2. Rantai Makanan Di Perairan Laut
Komunitas di Dalam Ekosistem Air Laut
Menurut fungsinya, komponen biotik ekosistem laut dapat dibedakan menjadi 4, yaitu:
| a. | Produsen |
| b. | Konsumen |
| c. | Zooplaokton |
Pada ekosistem laut dalam, yaitu pada daerah batial dan abisal merupakan daerah gelap sepanjang masa.
Di daerah tersebut tidak berlangsung kegiatan fotosintesis, berarti tidak ada produsen, sehingga yang ditemukan hanya konsumen dan dekompos saja. Ekosistem laut dalam merupakan suatu ekosistem yang tidak lengkap.
Semua hewan jika ditelusuri rantai makannnya akan bermula dari tumbuhan karena hanya tumbuhan yang mampu memproduksi zat organik dari zat organik. Di laut dalam tidak ada tumbuhan , oleh karena itu sumber makanan untuk hewan laut dalam harus berasal dari permukaan, bisa berupa :
1). “hujan” plankton atau partikel-partikel organik lainnya yang jatuh ke bawah.
2). Jatuhan bangkai-bangkai hewan besar atau potongan-potongan tumbuhan yang dengan cepat dapat tenggelam ke dasar sebelum habis terurai oleh bakteri atau hewan pemakan bangkai ( scavenger).
3). Bakteri, yang juga merupakan bahan organik yang potensial sebagai bahan makanan bagi berbagai biota.
4). Bahan organik pelarut.
“Hujan” partikel organik diduga merupakan masukan energi yang sangat penting bagi kehidupan hewan laut dalam. Sebagian besar partikel organik ini berupa gumpalan tinja dari zooplankton yang masih hidup dilapisan atas. Tinja dari beberapa krustacea plankton terselubung daam selaput membran yang sangat halus. Penelitian dengan menggunakan perangkap sedimen menunjukkan bahwa 1% dari produksi primer di permukaan tenggelam sampai pada kedalaman 3000-4000 m dalam bentuk gumpalan tinja.
Jatuhan bangkai hewan besar misalnya ikan tuna dapat merupakan bahan makanan bagi hewan laut tapi diduga umbangannya sangat kecil. Selain itu di dasar laut dalam juga ditemukan potongan-potongan dari tumbuhan darat atau pantai yang merupakan sumber bahan organik untuk kehidupan laut daam seperti telah ditemukandalam expedisi Galathea di dasar laut Sulawesi pada kedalaman hampir 5000 m.
Bakteri lebih banyak terdapat di sedimen dasar laut daripada di dalam air di atasnya. Bakteri ini bisa merupakan makanan penting bagi hewan-hewan yang hidup di dasar laut seperti protozoa, cacing, sponge, moluska, teripang. Bakteri mengandung protein dan lemak yang mudah di cerna. Populasi bakteri di dasar laut daam rata-rata sebesar 2 mg karbon per m2.
Beberapa hewan laut dalam tidak memiliki saluran pencernaan misalnya kelas pogonophora yang bentuknya panjang seperti cacing. Diduga hewan ini dapat memanfaatkan langsung zat organik yang terlarut dalam air.
Seperti yang ada di disekitar Antartika yang dihuni pinguin, anjing laut, ikan paus, burung albatros, serta ikan patagonian toothfish, ikan es (ice fish), udang krill, dan plankton. Kesemuanya ini membentuk rantai makanan yang lestari. Tampak bahwa kelestarian ekosistem di perairan Antartika ini amat ditentukan oleh ketersediaan rantai makanan tadi. Plankton dimakan oleh udang krill, kemudian udang krill tadi dilahap oleh ice fish, disantap pula oleh toothfish, yang kemudian dimakan oleh anjing laut dan dan ikan paus. Burung burung albatros juga menyantap ikan es dan udang krill untuk mempertahankan hidup mereka.
2.3. Adaptasi Biota Di Laut Dalam
Kondisi-kondisi limgkungan hidup laut dalam memaksa organisme penghuninya untuk mengadakan adaptasi. Dewasa ini juga baru diketahui sedikit tentang adaptasi fisikologi dan biokimiawi. Salah satu adaptasi yang dapat diamati, dan yang juga dapt di amati pada hewan-hewan mesopelagik, ialah warna. Ikan-ikan mesopelagik khususnya, cenderung berwarna abu-abu keperakan atau hitam kelam. Tidak terdapat kontras warna seperti pada hewan-hewan epipelagik. Sebaliknya invertebrata mesopelagik berwarna ungu atau merah cerah. Ubur-ubur, mesopelagik misanya, sering kali berwarna ungu kelam, sedang krustacea seperti kopepoda dan bermacam udang berwarna merah cerah. Karena organisme-organisme ini hidup dalam suasana yang gelap, organisme yang berwarna hitam tidak akan kelihatan. Namun dada organisme yang berwarna merah cerah, karena merah adalah warna yang pertama diabsorbsi oleh air laut. Jadi organisme yang berwarna merah juga tampak hitam di laut dalam.
Organisme yang hidup di zona abisal dan batial sering tidak berwarna atau berwarna putih kotor, dan tampaknya tidak berpigmen khususnya hewan-hewan bentik. Tetapi, hewan penghuni kedua zona ini berwarna hitam kelam. Adaptasi lain yang terutama tampak pada ikan penghuni zona mesopelagik dan batipelagik bagian atas adalah adanya sepasang mata yang besar. Jika dibandingkan dengan besarnya tubuh, ukuran mata ikan ini jauh lebih besar daripada ikan-ikan epipelagik. Pada umumnya ada korelasi antara ukuran mata yang besar dengan adanya orgaaaan-organ penghasil cahaya. Ikan-ikan ini berenang di bagian atas laut dalam di mana masih ada sedkit cahaya. Cukup banyak ikan-ikan ini yang mengadakan migrasi ke zona epipelagik pada malam hari. Mata yang besar memberikan kemampuan yang maksimum untuk mendeteksi cahaya di perairan di mana intensitas cahaya sangat rendah. Pada ikan, memperluas permukaan mata hanya salah satu adaptasi saja. Ikan-ikan ini juga memiliki ”penglihatan senja” yang peka karena danya pigmen rodopsi dan tingginya kepadatan batang retina. Kecenderungan lan ditunjukkan oleh ikan penghuni bagian-bagian laut dalam yang terdalam (abisal pelagik dan hadal pelagik). Ikan-ikan ini bermata sempit atau bahkan tidak mempunyai mata karrna mata tidak diperlukan jika tinggal di tempat yang gelap gulita.
Adaptasi lain adalah mata berbentuk pipa ( tubular). Tiap mata memili 2 retina, retina di pangkal silinder berfungsi untuk melihat obyek yang dekat, sedangkan yang terdapt di dinding silinder untuk melihal obyek yang jauh. Di antara invertebrata terdapat cumi-cumi dari Histioteuthidae yang memiliki adaptasi aneh yakni mata yang besar daripada mata lainnya. Mata yang besar ini mengumpulkan cahaya remang-remang dari arah permukaan laut. Selain mat besar cumi-cumi ini juga memiliki mata yang kecil untuk mengadakan respon terhadap cahaya yang dihasilkan fotofor-fotofor.
Langkanya pakan mengakibatkan adanya adaptasi lain. Kebanyakan ikan laut dalam memiliki mulut yang besar dan gigi yang panjang dan melengkung ke arah tenggorokan. Dengan demikian, sesuatu yang telah masuk ke dalam mulut dipastikan tidak bisa keluar. Lebih aneh lagi mulut ikan yang besar ini dihubungkan ke tengkorak oleh suatu engsel, sehingga mulutnya bisa bertambah lebar dan bisa menelan mangsa yang lebih besar daripada tubuhnya. Hal ini dilakukan dalam rangka beradaptasi dengan sedikitnya pakan.
Langkanya pakan mengakibatkan rendahnya kepadatan organisme, yang mengakibatkan sulit mencari pasangan untuk bereproduksi apalagi di laut dalam yang sangat luas dan gelap. Salah satu adaptasi terlihat pada ikan Ceratias. Di mana Ceratias jantan berukuran lebih kecil dan hidup menempel(parasit) pada Ceratias betina, sehingga Ceritias jantan selalu menyediakan sperma untuk Ceritias betina. Ceritias jantan bisa menemukan Ceritias betina melalui indria ulfaktorik.
Pada umunya dasar laut dalam terdiri dari sedimen yang sangat halus. Organisme yang hidup di dasar laut dalam juga cenderung bertubuh lembut dan rapuh, memiliki kaki yang panjang sehingga memungkinkan hewan ini dapat mengangkat tubunya di atas permukaan sedimen yang lunak. Terdapat pula ikan laut0dalam yang memiliki sirip yang panjang dan sempit, yang berfungsi juga untuk mengangkat tubuhnya di atas permukaan sedimen yang lunak.
2.4. Pengaruh Faktor-Faktor Lingkungan Terhadap Budidaya Laut
Budidaya laut adalah budidaya biota laut yang hidup dalam air laut. Ini berarti bahwa air laut merupakan medium dimana biota laut tersebut hidup, tumbuh dan berbiak lebih baik daripada rekan-rekannya yang tidak dibudidayakan.
Cara mengusahakan budidaya laut secara mudahnya dapat dibagi menjadi budidaya ekstensif, yakni pemeliharaan biota laut di suatu perairan yang cukup laus dengan padat peneberan yang rendah. Biota yang dibudidayakan dapat disediakan dari suatu sumber (pembenihan, pengumpulan dari alam) atau dari populasi alami yang masuk ke sistem dalam bentuk burayak atau juwana. Mereka biasanya hidup dari makanan alami. Contohnya adalah budidaya kerang, tiram dan rumput laut. Budidaya intensif dilakukan dengan padat penebaran tinggi dalam suatu lingkungan sempit seperti kurungan atau, kolam pembenihan dengan sistem air mengalir untuk memperoleh volume air sebesar-besarnya guna persediaan zat asam dan pengangkutan kotoran. Binatang yang dibudidaya dapat diberi makanan buatan dalam bentuk pelet. Seluruh sistem harus secara teliti diawasi dan dipantau. Contoh yang sudah mencapai teknologi canggih adalah pembenihan ikan trout dan salmon di Amerika Serikat dan di Eropa. Di Taiwan terdapat juga kategori ini, yakni budidaya bandeng.
Dalam kedua jenis budidaya tersebut air laut merupakan kebutuhan pokok, baik kuantitas maupun kualitas. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas air akan mempengaruhi pula keberhasilan budidaya.
Beberapa faktor penting yang dapat mempengaruhi kualitas air dan kehidupan biota laut yang dibudidaya adalah seperti di bawah ini.
S u h u
Suhu merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimiawi; menurut hukum van’t Hoff kenaikan suhu 10°C melipat duakan kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku. Misalnya saja proses metabolisme akan menaik sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi kemudian menurun lagi. Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi banyak proses kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan binatang, karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan.
Di perairan tropis perbedaan/variasi suhu air laut sepanjang tahun tidak besar; suhu permukaan laut Nusantara berkisar antara 27° dan 32°C. Kisaran suhu ini adalah normal untuk kehidupan biota laut di perairan Indonesia. Suhu alami tertinggi di perairan tropis berada dekat ambang atas penyebab kematian biota laut. Oleh karena itu peningkatan suhu yang kecil saja dari alami dapat menimbulkan kematian atau paling tidak gangguan fisiologis biota laut. GESAMP (1984) menyatakan bahwa kisaran suhu di daerah tropis sedemikian rupa sehingga banyak organisme hidup dekat dengan batas suhu tertinggi.
Salinitas
Keanekaragaman salinitas dalam air laut akan mempengaruhi jasad-jasad hidup akuatik melalui pengendalian berat jenis dan keragaman tekanan osmotik.
Jenis-jenis biota perenang ditakdirkan untuk mempunyai hampir semua jaringan-jaringan lunak yang berat jenisnya mendekati berat jenis air laut biasa, sedangkan jenis-jenis, yang hidup di dasar laut (bentos) mempunyai berat jenis yang lebih tinggi daripada air laut di atasnya.
Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan osmotik. Pada umumnya kandungan garam dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam dalam kebanyakan air laut. Kalau sel-sel itu berada di lingkungan dengan salinitas lain maka suatu mekanisme osmoregulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan kepekatan antara sel dan lingkungannya. Pada kebanyakan binatang estuarin penurunan salinitas permulaan biasanya dibarengi dengan penurunan salinitas dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi setelah ada penurunan salinitas yang nyata
Kadar oksigen terlarut
O2 terlarut diperlukan oleh hampir semua bentuk kehidupan akuatik untuk proses pembakaran dalam tubuh. Beberapa bakteria maupun beberapa binatang dapat hidup tanpa O2 (anaerobik) sama sekali; lainnya dapat hidup dalam keadaan anaerobik hanya sebentar tetapi memerlukan penyediaan O2 yang berlimpah setiap kali. Kebanyakan dapat hidup dalam keadaan kandungan O2 yang rendah sekali tapi tak dapat hidup tanpa O2 sama sekali. Sumber O2 terlarut dari perairan adalah udara di atasnya, proses fotosintese dan glycogen dari binatang itu sendiri. Air yang tak ber - O2 selalu jarang terdapat disamudera. O2 dihasilkan oleh proses fotosintesa dari binatang dan tumbuh-tumbuhan dan diperlukan bagi pernafasan.
Menurunnya kadar O2 terlarut dapat mengurangi efisiensi pengambilan O2 oleh biota laut, sehingga dapat menurunkan kemampuan biota tersebut untuk hidup normal dalam ling-kungannya. Kadar O2 terlarut di perairan Indonesia berkisar antara 4,5 dan 7.0 ppm.
pH (derajat keasaman)
Air laut mempunyai kemampuan menyangga yang sangat besar untuk mencegah perubahan pH. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidak seimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota laut. pH air laut permukaan di Indonesia umumnya bervariasi dari lokasi ke lokasi antara 6.0 – 8,5. Perubahan pH dapat mempunyai akibat buruk terhadap kehidupan biota laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibat langsung adalah kematian ikan, burayak, telur, dan lain-lainnya, serta mengurangi produktivitas primer. Akibat tidak langsung adalah perubahan toksisitas zat-zat yang ada dalam air, misalnya penurunan pH sebesar 1,5 dari nilai alami dapat memperbesar toksisitas NiCN sampai 1000 kali.
Unsur hara
Sebagian besar unsur-unsur kimiawi yang diperlukan oleh tumbuh-tumbuhan dan binatang terdapat dalam air laut dalam jumlah lebih dari cukup, sehingga kekurangannya tak perlu dipertimbangkan sebagai faktor ekologi. Dalam beberapa hal kepekatan unsur “trace” menjadi penting, tapi ini terjadi sangat jarang sekali dibanding dengan di darat.
Fosfat dan nitrat dalam kepekatan bagaimanapun selalu dalam rasio yang tetap. 15 at. N : 1 at P. Rasio ini cenderung tetap dalam fito dan zooplankton. Hanya dalam keadaan tertentu rasio dalam air berubah.
PO4 : P bisa oerada dalam bentuk senyawa organik maupun anorganik. Keduanya dalam bentuk butiran dan larutan. Dalam jaringan hidup terutama dalam bentuk senyawa organik dan dilepaskan kembali ke air sebagai kotoran maupun bangkai dalam bentuk butiran atau larutan. Umumnya kekurangan fosfat dalam laut mempengaruhi fotosintesa dan pertumbuhan sama besarnya.
NO3 : Samudera mendapatkan dari udara bukan saja N tetapi juga NO3. Seperti halnya PO4, pertumbuhan dan fotosintesa dari tumbuh-tumbuhan laut (fitoplankton dan alga bentik) dibatasi oleh kepekatan NO3 dalam air.
Selain unsur-unsur hara tersebut, diatom mengambil sejumlah besar Si dari laut dan kekurangan kandungan Si dapat menjadi faktor pembatas di perairan tertentu.
Faktor-faktor lingkungan lain yang penting diperhatikan adalah penyinaran matahari, gelombang dan arus.
DAFTAR PUSTAKA
Nontji, Anugrah. Laut Nusantara. 1986. Jakarta: Djambatan
Nybakken, W. James. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. 1986. Jakarta: PT. Gramedia Jakarta
Taryana, Didik. Bahan Ajar Oceanografi. 2004. Malang: FMIPA UM
Arifbio. Multiply. com / journal / item / 18 / Ekologi_Laut. Ekologi Laut. online, diakses tanggal 15 November 2008
Free. Vlsm. Org / VI2 / Sponsor / ... / Praweda Biologi / 0034 Bio. 1-7. htm, Pembagian Daerah Ekosistem Air laut, online diakses tanggal 15 November 2008
Masantos, Wordpress. com. Pengaruh Faktor-Faktor Lingkungan Terhadap Budidaya Laut. online, diakses tanggal 15 November 2008
http://www. harian global. com. Zona Laut. online, diakses tanggal 15 November 2008
